JAKARTA - Francesco Bagnaia mengakui tengah menghadapi salah satu periode paling sulit dalam kariernya di MotoGP.
Performa yang tak kunjung stabil dan rentetan kecelakaan membuat pembalap Ducati Lenovo itu kesulitan kembali ke persaingan terdepan pada MotoGP 2026.
Kondisi tersebut kembali terlihat di MotoGP Aragon 2026. Bagnaia hanya mampu finis di posisi ke-11 pada sprint race, sementara pada balapan utama ia kembali mengalami kecelakaan.
Bagi Bagnaia, persoalannya bukan sekadar hasil balapan. Pembalap asal Italia itu merasa kehilangan kendali terhadap karakter motor yang dikendarainya.
"Sulit untuk menerimanya, sekarang salah satu titik terendah dalam karier saya," ujar Bagnaia, Rabu (2/9/2026).
Bagnaia tercatat sudah tiga kali terjatuh dalam empat balapan utama. Situasi tersebut membuat perolehan poinnya tertahan dan menempatkannya di posisi kedelapan klasemen sementara MotoGP 2026 dengan 143 poin.
Meski sudah empat kali naik podium musim ini, Bagnaia belum sekalipun memenangkan balapan utama.
Catatan itu menjadi kontras dengan performanya pada musim-musim sebelumnya ketika ia menjadi salah satu kandidat utama perebutan gelar juara dunia.
Salah satu persoalan terbesar yang dirasakan Bagnaia adalah sulitnya menemukan keseimbangan antara gaya membalap dan karakter motor Ducati.
"Saya bisa melihat dengan jelas dari data maupun apa yang saya rasakan, bahwa saya tidak benar-benar mengendalikan motor," katanya.
"Saya justru seperti hanya 'dibawa' oleh motor tersebut. Sebab, saat saya mencoba melakukan manuver lebih agresif, saya malah terjatuh. Bahkan saat melaju pelan pun, saya tetap saja terjatuh," tuturnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan betapa besar persoalan yang sedang dihadapi Bagnaia.
Bahkan ketika mencoba mengurangi agresivitas, pembalap bernomor 63 itu masih belum mampu mendapatkan rasa percaya diri yang dibutuhkan untuk mengendalikan motor secara konsisten.
Namun, Bagnaia tidak menganggap kemampuannya sebagai pembalap telah menghilang.
Di tengah situasi sulit tersebut, Bagnaia masih menemukan alasan untuk optimistis. Ia mengaku membandingkan data yang dimilikinya dengan pembalap Ducati lain untuk mencari celah memperbaiki performa.
"Untungnya datanya tersedia, saya juga memiliki kesadaran akan kemampuan saya sendiri. Saat saya melihat data-data dari rider Ducati lain, itu sebenarnya adalah hal-hal yang bisa saya lakukan dengan mudah beberapa tahun lalu," tuturnya.
Bagnaia menilai kemampuan dasarnya sebagai pembalap masih ada. Tantangan utamanya saat ini adalah mengembalikan performa tersebut ketika berada di atas motor.
"Jadi jelas, kemampuan saya belum hilang. Saya hanya belum bisa tampil sesuai harapan," tegasnya.
MotoGP 2026 memiliki arti khusus bagi Bagnaia karena menjadi musim terakhirnya bersama Ducati.
Mulai musim depan, ia akan meninggalkan pabrikan asal Italia tersebut dan menjalani tantangan baru bersama Aprilia.
Karena itu, sisa musim 2026 menjadi kesempatan bagi Bagnaia untuk menutup perjalanannya bersama Ducati dengan hasil yang lebih positif.
Alih-alih menyerah, Bagnaia masih bertekad mencari solusi atas persoalan yang membuatnya kesulitan sepanjang musim.
Dengan kompetisi MotoGP yang masih berlangsung, pembalap 29 tahun itu memiliki waktu untuk membalikkan keadaan sekaligus membuktikan bahwa performa buruk musim ini bukan gambaran sebenarnya dari kemampuan seorang juara dunia.