PEKANBARU - Aktivitas titik panas (hotspot) di wilayah Sumatera terpantau relatif rendah pada awal Januari 2026. Namun demikian, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru menegaskan perlunya kewaspadaan dini karena seluruh hotspot yang terdeteksi justru terkonsentrasi di Provinsi Riau.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Deby mengungkapkan, pada Senin (5/1/2026) total hotspot di Sumatera tercatat tiga titik, dan semuanya berada di Kota Dumai.
“Hari ini total titik panas di wilayah Sumatera ada tiga dan seluruhnya terpantau berada di Provinsi Riau, tepatnya di Kota Dumai,” ujarnya.
Kondisi tersebut menjadi sinyal awal yang perlu diantisipasi, meskipun secara umum faktor meteorologis di Riau masih berada dalam kategori normal.
BMKG mencatat suhu udara berkisar 22,0 hingga 33,0 derajat Celsius, dengan tingkat kelembapan udara cukup tinggi antara 55 hingga 98 persen.
Sementara itu, pola angin bertiup dari arah Utara hingga Timur Laut dengan kecepatan sekitar 10 sampai 30 kilometer per jam.
Arah dan kecepatan angin ini dinilai berpotensi memengaruhi penyebaran asap apabila terjadi peningkatan aktivitas kebakaran lahan.
BMKG mengimbau pemerintah daerah, aparat terkait, serta masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan, khususnya di wilayah Dumai dan sekitarnya.
“Meskipun jumlah hotspot masih rendah, pemantauan dan langkah pencegahan tetap harus diperkuat agar tidak berkembang menjadi kebakaran hutan dan lahan,” tambahnya.
Pemantauan hotspot secara konsisten dinilai krusial sebagai bagian dari strategi mitigasi karhutla, terutama memasuki periode cuaca yang dinamis di awal tahun.