PEKANBARU - Provinsi Riau kembali menjadi daerah dengan jumlah titik panas (hotspot) terbanyak di Pulau Sumatera. Data terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, hingga Selasa (3/2/2026), total hotspot di wilayah Sumatera mencapai 158 titik, dengan 57 titik berada di Riau.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Anggun menjelaskan, sebaran hotspot ini menjadi indikator awal meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah yang memiliki lahan gambut dan aktivitas pembukaan lahan.
“Berdasarkan pantauan satelit hari ini, total hotspot di Sumatera ada 158 titik. Riau masih menjadi provinsi dengan jumlah terbanyak, yaitu 57 titik,” ujarnya.
BMKG merinci, sebaran titik panas di Sumatera meliputi Riau 57 titik, Aceh 33 titik, Kepulauan Riau 37 titik, Sumatera Utara 14 titik, Bangka Belitung 9 titik, Jambi 7 titik dan Sumatera Barat 1 titik.
Di Provinsi Riau, hotspot tersebar di enam daerah, dengan konsentrasi tertinggi berada di wilayah pesisir dan sentra lahan gambut Kabupaten Pelalawan 21 titik dan Kabupaten Bengkalis 20 titik.
Kemudian, di Kabupaten Kepulauan Meranti 8 titik, Kabupaten Indragiri Hilir 4 titik, Kabupaten Siak 3 titik dan Kota Dumai 1 titik.
Menurut Anggun, meski sebagian besar hotspot masih berada pada tingkat kepercayaan menengah, tren peningkatan ini perlu diwaspadai secara serius oleh pemerintah daerah dan masyarakat.
“Hotspot ini belum tentu semuanya kebakaran aktif, tetapi menjadi sinyal awal yang harus diantisipasi agar tidak berkembang menjadi karhutla,” tegasnya.
BMKG mengimbau seluruh pihak, khususnya di Riau, untuk memperkuat langkah mitigasi sejak dini, mulai dari patroli terpadu, pengawasan lahan rawan terbakar, hingga edukasi masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan.
Langkah pencegahan dinilai krusial mengingat dampak karhutla tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengganggu kesehatan dan aktivitas ekonomi akibat asap.