PEKANBARU – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru mencatat lonjakan signifikan titik panas (hotspot) di wilayah Sumatera.
Hingga Selasa (27/1/2026), total hotspot terdeteksi mencapai 368 titik, dan untuk Provinsi Riau mengalami peningkatan tajam menjadi 62 titik yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Putri Santy mengungkapkan, sebaran hotspot di Sumatera menunjukkan potensi awal meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah dengan tutupan lahan gambut.
“Berdasarkan pemantauan satelit hari ini, total hotspot di Sumatera mencapai 368 titik. Di Provinsi Riau sendiri terdeteksi 62 titik panas yang tersebar di beberapa kabupaten dan kota,” ujarnya.
BMKG merincikan, jumlah hotspot yang terpantau di sembilan provinsi di Sumatera meliputi Aceh 167 titik, Riau 62 titik, Sumatera Utara 48 titik, Sumatera Barat 37 titik dan Jambi 23 titik.
Kemudian, di Provinsi Lampung 18 titik, Bengkulu 8 titik, Sumatera Selatan 1 titik, Kepulauan Riau 2 titik dan Kepulauan Bangka Belitung 2 titik.
Aceh menjadi provinsi dengan jumlah hotspot terbanyak, disusul Riau, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
Khusus di Riau, hotspot terpantau paling banyak berada di wilayah yang selama ini dikenal rawan karhutla.
Rincian sebaran titik panas di Riau meliputi Kabupaten Indragiri Hilir 23 titik, Kabupaten Bengkalis 12 titik dan Kabupaten Pelalawan 10 titik.
Selain itu, titik panas juga terdeteksi di Kota Dumai 7 titik, Kabupaten Rokan Hilir 4 titik, Kabupaten Indragiri Hulu 3 titik, Kabupaten Siak 2 titik dan Kabupaten Kepulauan Meranti 1 titik.
BMKG menilai peningkatan hotspot di awal tahun ini perlu menjadi perhatian serius seluruh pemangku kepentingan, mengingat sebagian wilayah Riau masih memasuki periode cuaca relatif kering.
“Hotspot ini perlu diwaspadai sebagai indikasi awal. Pemerintah daerah dan masyarakat diimbau meningkatkan kesiapsiagaan dan tidak melakukan pembakaran lahan,” pungkasnya.