PEKANBARU - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru mencatat lonjakan signifikan titik panas (hotspot) di wilayah Sumatera.
Hingga Jumat (23/1/2026), total terdapat 163 hotspot yang tersebar di delapan provinsi, menjadi sinyal peringatan dini meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Yasir menjelaskan, sebaran hotspot tertinggi terpantau di Provinsi Aceh dengan 80 titik, disusul Sumatera Utara 31 titik dan Riau 15 titik.
Kemudian, Kepulauan Bangka Belitung 13 titik, Sumatera Barat 11 titik, Sumatera Selatan 7 titik, serta masing-masing Jambi dan Kepulauan Riau 3 titik.
“Pantauan satelit hari ini menunjukkan peningkatan aktivitas titik panas di sejumlah wilayah Sumatera. Kondisi ini perlu diwaspadai, terutama di daerah dengan tutupan lahan gambut,” kata Yasir.
Di Provinsi Riau, BMKG mendeteksi 15 hotspot yang tersebar di tiga kabupaten. Rinciannya, Kabupaten Indragiri Hilir 6 titik, Pelalawan 5 titik, dan Rokan Hulu 4 titik.
Menurut Yasir, kemunculan hotspot belum tentu langsung berarti kebakaran besar, namun tetap harus ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah dan aparat terkait.
“Hotspot merupakan indikasi awal. Jika tidak direspons cepat, berpotensi berkembang menjadi kebakaran lahan,” ujarnya.
BMKG mengimbau pemerintah daerah, BPBD, serta masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan, khususnya di wilayah rawan karhutla.
Upaya patroli terpadu, edukasi masyarakat, dan pelarangan pembakaran lahan menjadi langkah krusial untuk menekan risiko bencana asap.
BMKG juga terus melakukan pemantauan intensif berbasis satelit dan akan menyampaikan pembaruan data secara berkala sebagai dasar pengambilan kebijakan mitigasi.