PEKANBARU - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat lonjakan signifikan titik panas (hotspot) di wilayah Sumatera.
Hingga Senin (26/1/2026), total terdapat 580 hotspot yang terdeteksi dan tersebar di sepuluh provinsi, menandakan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menguat meski awal tahun masih didominasi cuaca basah.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Alfa Nataris, menyampaikan bahwa sebaran hotspot tersebut perlu menjadi perhatian serius pemerintah daerah dan masyarakat, terutama di wilayah dengan karakteristik lahan gambut.
“Total titik panas di Sumatera hari ini mencapai 580 titik. Ini menjadi indikator awal meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan jika tidak diantisipasi sejak dini,” ujarnya.
Berdasarkan data BMKG, provinsi dengan jumlah hotspot tertinggi adalah Aceh sebanyak 161 titik, disusul Lampung 95 titik, Sumatera Barat 94 titik, dan Sumatera Utara 74 titik.
Sementara itu, Provinsi Riau mencatat 57 hotspot yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota.
Sebaran hotspot di Riau meliputi Kabupaten Bengkalis 6 titik, Kabupaten Kepulauan Meranti 1 titik, Kabupaten Rokan Hulu 6 titik, Kabupaten Indragiri Hilir 19 titik, Kabupaten Kampar 3 titik, Kabupaten Pelalawan 18 titik dan Kota Dumai 4 titik
Menurut Alfa, konsentrasi hotspot di wilayah pesisir dan kawasan gambut seperti Inhil dan Pelalawan perlu mendapatkan pengawasan ekstra karena berpotensi berkembang menjadi kebakaran skala besar.
“Wilayah dengan dominasi lahan gambut sangat rentan. Jika curah hujan rendah dan angin cukup kencang, hotspot bisa cepat berkembang menjadi karhutla,” tegasnya.
BMKG mengimbau pemerintah daerah, aparat penegak hukum, serta masyarakat untuk meningkatkan patroli terpadu dan tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan.
Langkah mitigasi dini dinilai krusial agar kasus karhutla tidak berulang seperti tahun-tahun sebelumnya.
Selain itu, masyarakat diminta segera melaporkan jika menemukan indikasi kebakaran agar dapat ditangani sebelum meluas.