PEKANBARU - Aktivitas titik panas (hotspot) di Pulau Sumatera menunjukkan tren peningkatan signifikan pada awal Januari 2026.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru mencatat total 114 hotspot terpantau pada Kamis (8/1/2026), dengan konsentrasi tertinggi berada di wilayah Sumatera Selatan dan Bengkulu.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Yasir menyebut, sebaran titik panas ini perlu menjadi perhatian serius pemerintah daerah dan masyarakat, meski masih berada di awal musim hujan.
“Berdasarkan pemantauan satelit hari ini, total hotspot di Sumatera mencapai 114 titik. Sebarannya paling banyak berada di Sumatera Selatan sebanyak 54 titik dan Bengkulu 31 titik,” ujarnya.
BMKG mencatat distribusi hotspot di delapan provinsi sebagai berikut, Sumatera Selatan 54 titik, Bengkulu 31 titik, Sumatera Barat 10 titik dan Jambi 9 titik.
Kemudian, Bangka Belitung 4 titik, Sumatera Utara 3 titik, Aceh 1 titik, Lampung 1 titik, sedangkan Riau 1 titik di Kabupaten Rohul.
Menurut Yasir, kemunculan hotspot ini dipengaruhi oleh kombinasi cuaca panas lokal, berkurangnya curah hujan di beberapa wilayah, serta aktivitas pembukaan lahan yang masih terjadi.
“Walaupun sebagian wilayah sudah memasuki periode hujan, terdapat kondisi cuaca lokal yang kering sehingga berpotensi memicu titik panas, terutama di area rawan karhutla,” jelasnya.
Untuk wilayah Riau, BMKG memastikan situasi masih relatif terkendali dengan hanya satu hotspot terpantau di Kabupaten Rohul.
Namun, Yasir menegaskan bahwa kewaspadaan tetap diperlukan mengingat pola cuaca yang fluktuatif.
“Riau hari ini hanya terdeteksi satu hotspot. Namun masyarakat tetap kami imbau tidak melakukan pembakaran lahan karena kondisi atmosfer bisa berubah cepat,” pungkasnya.
BMKG mengimbau pemerintah daerah, aparat desa, serta masyarakat untuk memperkuat langkah pencegahan dini, termasuk patroli terpadu dan sosialisasi bahaya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).