PEKANBARU - Aktivitas titik panas (hotspot) kembali terpantau di sejumlah wilayah Sumatera. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru mencatat 44 hotspot terdeteksi pada Kamis (15/1/2026), dengan sebaran terbanyak berada di Provinsi Aceh.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Yasir menjelaskan, data tersebut diperoleh dari pemantauan satelit terbaru yang menjadi indikator awal potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Hari ini terpantau 44 titik panas di wilayah Sumatera. Sebaran terbanyak berada di Aceh, sementara Riau terdeteksi tujuh titik yang tersebar di beberapa kabupaten dan kota,” ujarnya.
Berdasarkan data BMKG, Aceh menjadi provinsi dengan jumlah hotspot tertinggi, yakni 22 titik.
Disusul Sumatera Utara delapan titik, Sumatera Selatan tiga titik, Sumatera Barat dua titik, serta Kepulauan Riau dan Lampung masing-masing satu titik.
Sementara itu, Provinsi Riau mencatat tujuh hotspot yang tersebar di empat daerah. Rinciannya, Kabupaten Pelalawan satu titik, Siak satu titik, Rohil dua titik, dan Kota Dumai tiga titik panas.
BMKG menegaskan bahwa kemunculan hotspot tidak serta-merta berarti telah terjadi kebakaran besar.
Namun, kondisi ini menjadi peringatan dini bagi pemerintah daerah dan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah rawan lahan gambut.
“Hotspot adalah indikator awal. Perlu langkah cepat di lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya dan mencegah potensi karhutla meluas,” pungkasnya.
BMKG juga mengimbau pemerintah daerah, aparat terkait, serta masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan, khususnya di tengah kondisi cuaca yang relatif kering di beberapa wilayah Sumatera.