PEKANBARU - Provinsi Riau kembali menjadi pusat perhatian nasional setelah mendominasi jumlah titik panas (hotspot) di Pulau Sumatera.
Data pemantauan BMKG Pekanbaru mencatat, dari total 178 hotspot yang terdeteksi pada Kamis (5/2/2026), sebanyak 160 titik berada di Riau.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Alfa Nataris mengatakan, konsentrasi hotspot yang tinggi di Riau menjadi indikator awal meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah rawan gambut.
“Berdasarkan pemantauan satelit hari ini, Riau masih mendominasi sebaran hotspot di Sumatera dengan jumlah signifikan. Kondisi ini perlu menjadi perhatian serius semua pihak,” ujarnya.
Selain Riau, hotspot juga terpantau di beberapa provinsi lain, namun jumlahnya relatif kecil, yakni Aceh 1 titik, Jambi 1 titik, Sumatera Barat 1 titik, Sumatera Utara 4 titik, Sumatera Selatan 3 titik dan Kepulauan Riau 8 titik
Di tingkat kabupaten/kota, hotspot di Riau terkonsentrasi di beberapa daerah utama. Kabupaten Pelalawan menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, disusul Kabupaten Bengkalis.
Sebaran ratusan titik panas di Riau meliputi, Kabupaten Pelalawan 105 titik, Kabupaten Bengkalis 47 titik dan Kabupaten Rokan Hilir 2 titik
Kemudian, Kabupaten Rokan Hulu 1 titik, Kabupaten Siak 1 titik, Kabupaten Indragiri Hilir 2 titik dan Kota Dumai 2 titik
BMKG menilai pola sebaran ini menunjukkan adanya tekanan lingkungan yang berulang di wilayah dengan karakteristik lahan gambut dan aktivitas manusia yang tinggi.
“Jika tidak diantisipasi sejak dini, peningkatan hotspot berpotensi berkembang menjadi kejadian karhutla yang berdampak pada kualitas udara dan aktivitas masyarakat,” pungkasnya.