PEKANBARU - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru mencatat 27 hotspot tersebar di enam provinsi hingga Jumat (16/1/2026) sore, menjadi sinyal awal potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di awal tahun.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Alfa Nataris menyampaikan, sebaran titik panas paling banyak terdeteksi di Provinsi Aceh, disusul Sumatera Selatan dan sejumlah wilayah lain.
“Total titik panas di wilayah Sumatera terpantau sebanyak 27 titik. Sebaran terbanyak berada di Aceh,” ujarnya.
Berdasarkan pemantauan BMKG, rincian sebaran hotspot tersebut meliputi Aceh 14 titik, Sumatera Selatan 8 titik, Jambi 2 titik, Sumatera Utara 1 titik, Kepulauan Riau 1 titik, serta Riau 1 titik.
Untuk wilayah Riau, hotspot terpantau berada di Kabupaten Pelalawan. Meski jumlahnya masih terbatas, BMKG menekankan pentingnya kewaspadaan dini, terutama di daerah dengan lahan gambut dan aktivitas pembukaan lahan.
BMKG mengimbau pemerintah daerah, aparat terkait, serta masyarakat agar tidak lengah terhadap potensi karhutla, khususnya saat kondisi cuaca mendukung munculnya titik panas baru.
“Deteksi dini hotspot sangat penting untuk mencegah kebakaran meluas. Perlu respons cepat lintas sektor,” tegasnya.
BMKG juga terus melakukan pemantauan intensif menggunakan sistem satelit dan akan memperbarui informasi jika terjadi peningkatan signifikan jumlah titik panas di Sumatera.