PEKANBARU - Provinsi Riau kembali menjadi wilayah dengan konsentrasi titik panas (hotspot) tertinggi di Pulau Sumatera.
Data terbaru pemantauan satelit menunjukkan Riau menyumbang mayoritas hotspot yang terdeteksi pada Sabtu (7/2/2026), menandakan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih perlu diwaspadai.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Alfa Nataris mengungkapkan, secara keseluruhan terdapat 115 hotspot yang tersebar di berbagai provinsi di Sumatera.
Dari jumlah tersebut, Riau mencatat 90 titik, atau hampir 80 persen dari total hotspot Sumatera.
“Total hotspot wilayah Sumatera hari ini terpantau sebanyak 115 titik, dengan sebaran terbanyak berada di Provinsi Riau,” ujarnya.
Selain Riau, hotspot juga terdeteksi di beberapa wilayah lain, yakni Aceh sebanyak 5 titik, Sumatera Utara 3 titik, Kepulauan Riau 15 titik, serta masing-masing 1 titik di Bengkulu dan Sumatera Barat.
Di tingkat kabupaten/kota di Riau, sebaran hotspot terkonsentrasi di wilayah rawan karhutla.
Kabupaten Pelalawan menjadi daerah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 47 titik, disusul Kabupaten Bengkalis sebanyak 38 titik, serta Kabupaten Indragiri Hilir sebanyak 5 titik.
BMKG menilai pola sebaran ini mengindikasikan masih dominannya faktor cuaca kering dan karakteristik lahan gambut yang mudah terbakar di sejumlah wilayah Riau.
Kondisi tersebut menuntut kewaspadaan dini dari seluruh pemangku kepentingan guna mencegah meluasnya kebakaran.
“Sebaran hotspot ini perlu menjadi perhatian bersama sebagai langkah mitigasi awal terhadap potensi karhutla,” pungkasnya.