PEKANBARU - Provinsi Riau kembali menjadi sorotan dalam pemantauan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Data pemantauan satelit menunjukkan lonjakan signifikan titik panas (hotspot) di wilayah ini, dengan kontribusi terbesar secara nasional di Pulau Sumatera.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Ranti Kurniati, mengungkapkan bahwa hingga Jumat (13/2/2026), total hotspot di Sumatera mencapai 329 titik, dan Riau menyumbang 280 titik atau lebih dari 85 persen dari keseluruhan.
“Berdasarkan pantauan hari ini, sebaran titik panas di Sumatera didominasi oleh Provinsi Riau dengan jumlah mencapai 280 titik,” ujarnya.
Di Provinsi Riau, Kabupaten Bengkalis tercatat sebagai wilayah paling rawan dengan 207 hotspot, jauh melampaui daerah lain.
Kondisi ini mengindikasikan potensi peningkatan risiko karhutla apabila tidak dilakukan langkah pengendalian dini.
Selain Kabupaten Bengkalis, titik panas juga tersebar di Kabupaten Pelalawan 16 titik, Kabupaten Siak 11 titik, Kabupaten Kepulauan Meranti 10 titik dan Kabupaten Indragiri Hilir 10 titik.
Kemudian, Kota Dumai 9 titik, Kabupaten Rokan Hilir 7 titik, Kabupaten Kampar 5 titik, Kabupaten Rokan Hulu 2 titik, Kabupaten Indragiri Hulu 2 titik dan Kabupaten Kuantan Singingi 1 titik.
Sementara itu, provinsi lain di Sumatera mencatat angka yang jauh lebih rendah, seperti Aceh 7 titik, Sumatera Barat 2, Sumatera Selatan 3, Sumatera Utara 3, Kepulauan Riau 10, serta Bangka Belitung dan Jambi masing-masing 12 titik.
Dominasi hotspot di Riau menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait untuk meningkatkan kewaspadaan.
Data ini juga berfungsi sebagai indikator awal potensi kebakaran, terutama di wilayah dengan karakteristik lahan gambut yang mudah terbakar saat kondisi kering.
BMKG menegaskan, pemantauan hotspot dilakukan secara berkelanjutan sebagai bagian dari sistem peringatan dini, guna menekan dampak karhutla terhadap lingkungan, kesehatan, dan aktivitas masyarakat.