PEKANBARU – Potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Sumatera kembali menjadi sorotan. Berdasarkan pemantauan satelit, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika melalui BMKG Stasiun Pekanbaru mendeteksi 32 titik panas (hotspot) di wilayah Sumatera, Rabu (25/2/2026).
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Putri Santy Siregar mengungkapkan, sebaran titik panas tersebut tersebar di sejumlah provinsi dengan konsentrasi tertinggi berada di Aceh.
“Total hotspot di wilayah Sumatera hari ini terpantau sebanyak 32 titik,” ujarnya.
Dari total tersebut, Provinsi Aceh mencatat jumlah tertinggi dengan 17 titik panas. Disusul Kepulauan Riau sebanyak 5 titik, Bangka Belitung 3 titik, serta masing-masing satu titik di Jambi.
“Untuk wilayah Riau terdapat 6 titik panas, masing-masing dua titik di Dumai, tiga titik di Bengkalis, dan satu titik di Pelalawan,” jelasnya.
Enam hotspot tersebut terpantau di Dumai 2 titik, Kabupaten Bengkalis 3 titik dan Kabupaten Pelalawan 1 titik.
Munculnya titik panas menjadi indikator awal potensi kebakaran hutan dan lahan, terutama di tengah kondisi cuaca kering.
Meski jumlahnya belum tergolong masif, distribusi hotspot tetap memerlukan perhatian serius dari pemerintah daerah dan aparat terkait.
BMKG terus melakukan pemantauan intensif melalui citra satelit untuk mendeteksi perkembangan hotspot secara real-time. Data ini menjadi dasar langkah mitigasi dini guna mencegah meluasnya kebakaran.
Peningkatan kewaspadaan dinilai penting mengingat Riau merupakan salah satu wilayah yang memiliki riwayat karhutla cukup tinggi setiap musim kemarau.