PEKANBARU – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 43 titik panas terdeteksi di wilayah Sumatera hingga Kamis sore (26/2/2026). Data tersebut disampaikan Prakirawan BMKG Pekanbaru, Yudhistira M, dalam laporan pemantauan terbaru.
Dari total 43 hotspot, Provinsi Riau menyumbang 14 titik panas. Jumlah ini menjadi salah satu yang tertinggi setelah Sumatera Selatan yang tercatat 15 titik. Sementara itu, Bangka Belitung terdeteksi 8 titik, Kepulauan Riau 3 titik, Bengkulu 2 titik, dan Aceh 1 titik.
Di Riau, sebaran titik panas paling banyak berada di Kabupaten Bengkalis dengan 11 titik. Disusul Kabupaten Pelalawan 2 titik dan Kabupaten Indragiri Hilir 1 titik. Kondisi ini menjadi perhatian serius mengingat potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih mengintai di sejumlah wilayah rawan.
Selain data hotspot, BMKG juga merilis pembaruan jarak pandang (visibility) pada pukul 16.00 WIB. Di Kota Pekanbaru dan Rengat, jarak pandang terpantau sejauh 8 kilometer. Sementara di Pelalawan dan Tambang, jarak pandang mencapai 10 kilometer. Meski masih dalam kategori relatif aman, pemantauan terus dilakukan untuk mengantisipasi dampak asap apabila terjadi peningkatan titik api.
Seiring meningkatnya temuan hotspot, Pemerintah Provinsi Riau melalui Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika dan instansi terkait terus memperkuat koordinasi penanggulangan karhutla.
Status siaga darurat karhutla di Riau sendiri telah resmi ditetapkan dan berlaku mulai 13 Februari hingga 30 November 2026, berdasarkan surat keputusan yang ditandatangani Pelaksana Tugas Gubernur.
Penetapan status siaga ini menjadi langkah antisipatif guna mempercepat respons apabila terjadi kebakaran, sekaligus menekan risiko meluasnya kabut asap di wilayah Riau dan sekitarnya.