PEKANBARU – Aktivitas titik panas di Pulau Sumatera kembali terdeteksi. Data terbaru dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 35 hotspot tersebar di sejumlah provinsi, Kamis (5/3/2026).
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Deby mengungkapkan, pemantauan satelit menunjukkan konsentrasi tertinggi berada di Sumatera Barat.
“Total titik panas wilayah Sumatera hari ini terpantau 35 titik. Paling banyak berada di Sumatera Barat dengan 9 titik,” ujar Deby.
Secara rinci, sebaran hotspot tersebut meliputi Aceh 8 titik, Sumatera Utara6 titik, Sumatera Barat 9 titik, Jambi 2 titik, Sumatera Selatan 5 titik dan Riau 5 titik.
Untuk wilayah Riau, terdeteksi lima titik panas yang tersebar di tiga kabupaten. Bengkalis menjadi daerah dengan jumlah terbanyak.
“Di Riau ada 5 titik panas, masing-masing 3 titik di Bengkalis, 1 titik di Kampar, dan 1 titik di Rokan Hulu,” jelas Deby.
Sebaran ini menjadi perhatian karena beberapa wilayah tersebut memiliki lahan gambut yang rentan terbakar saat kondisi cuaca kering.
Pemantauan lanjutan diperlukan guna memastikan apakah hotspot tersebut berindikasi kuat sebagai kebakaran hutan dan lahan (karhutla) atau tidak.
Meski jumlah hotspot masih tergolong fluktuatif, tren kemunculan titik panas pada awal Maret ini menjadi sinyal kewaspadaan dini, terutama menjelang periode cuaca lebih kering.
BMKG terus melakukan pemantauan berbasis satelit untuk mendeteksi anomali suhu permukaan yang berpotensi menjadi sumber api.
Data hotspot sendiri merupakan indikator awal yang belum tentu menunjukkan kebakaran aktif, namun tetap menjadi dasar langkah antisipasi.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait diharapkan meningkatkan patroli darat serta pengecekan lapangan di lokasi yang terdeteksi guna mencegah potensi meluasnya kebakaran.