PEKANBARU – Aktivitas titik panas (hotspot) di wilayah Sumatera kembali meningkat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru mencatat total 516 hotspot terdeteksi di Pulau Sumatera pada Jumat (13/3/2026), dengan Provinsi Riau menyumbang jumlah tertinggi mencapai 244 titik.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Yasir mengatakan, kondisi cuaca yang relatif kering berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), terutama di sejumlah wilayah yang menjadi kantong hotspot.
“Total titik panas di wilayah Sumatera hari ini mencapai 516 titik. Provinsi Riau mendominasi dengan 244 titik yang tersebar di beberapa kabupaten,” katanya.
Berdasarkan pemantauan satelit, titik panas tersebar di sejumlah provinsi di Sumatera, antara lain, Aceh 36 titik, Bengkulu 1 titik, Sumatera Utara 11 titik, dan Sumatera Barat 28 titik.
Kemudian, Jambi 66 titik, Kepulauan Riau 44 titik, Bangka Belitung 29 titik, Sumatera Selatan 56 titik, Lampung 1 titik, Riau 244 titik.
Di Provinsi Riau, hotspot tersebar di beberapa kabupaten dengan konsentrasi tertinggi berada di wilayah pesisir dan kawasan lahan gambut.
Rinciannya meliputi, Rokan Hulu 2 titik, Rokan Hilir 10 titik, Bengkalis 33 titik, Kampar 18 titik, Siak 5 titik, Pelalawan 106 titik, Kuantan Singingi 3 titik, Indragiri Hulu 7 titik, Indragiri Hilir 59 titik dan Kepulauan Meranti 1 titik.
Data tersebut menunjukkan Kabupaten Pelalawan menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, diikuti Indragiri Hilir dan Bengkalis.
BMKG menilai kondisi cuaca pada hari ini cenderung minim hujan sehingga berpotensi membuat lahan semakin kering dan mudah terbakar.
“Potensi hujan yang relatif sedikit hari ini dapat menyebabkan lahan menjadi lebih kering,” ujarnya.
Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah yang memiliki riwayat kebakaran lahan.
BMKG juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar, karena dapat memicu kebakaran hutan dan lahan yang lebih luas.
“Kami mengimbau masyarakat untuk membasahi lahan di pekarangan agar tidak berdebu serta tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara dibakar karena dapat memicu karhutla,” pungkasnya.
Upaya pencegahan dini dinilai penting dilakukan, terutama menjelang periode cuaca yang lebih kering di sejumlah wilayah Sumatera.