PEKANBARU – Pemantauan satelit terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sumatera kembali menunjukkan peningkatan aktivitas titik panas.
Hingga Senin (16/3/2026), total 82 hotspot terdeteksi tersebar di sejumlah provinsi di Pulau Sumatera.
Forecaster on Duty BMKG Pekanbaru, Yasir, mengatakan sebaran titik panas tersebut berdasarkan pemantauan terbaru menggunakan satelit yang memonitor aktivitas panas di permukaan bumi.
“Total hotspot wilayah Sumatera hari ini terpantau sebanyak 82 titik yang tersebar di beberapa provinsi,” kata Yasir.
Berdasarkan data tersebut, Bengkulu menjadi provinsi dengan jumlah hotspot terbanyak yakni 28 titik, disusul Sumatera Selatan sebanyak 24 titik. Sementara beberapa provinsi lain mencatat jumlah lebih sedikit.
Rinciannya, Aceh 4 titik, Sumatera Barat 5 titik, Jambi 4 titik, Kepulauan Riau 7 titik, Bengkulu 28 titik, Sumatera Selatan 24 titik, Lampung 3 titik dan Riau 7 titik.
Khusus di Provinsi Riau, hotspot terpantau berada di tiga wilayah kabupaten.
“Di Riau terdapat tujuh hotspot, dengan sebaran lima titik di Kabupaten Pelalawan, satu titik di Kabupaten Bengkalis, dan satu titik di Kabupaten Kuantan Singingi,” jelas Yasir.
Keberadaan hotspot ini menjadi indikator awal yang perlu diwaspadai karena berpotensi menjadi titik kebakaran hutan dan lahan apabila kondisi cuaca kering dan angin mendukung penyebaran api.
BMKG mengingatkan bahwa pemantauan hotspot merupakan langkah penting untuk deteksi dini karhutla, sehingga pemerintah daerah dan tim penanggulangan bencana dapat melakukan antisipasi lebih cepat di lapangan.
Selain itu, masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan yang dapat memicu kebakaran lebih luas, terutama memasuki periode cuaca yang relatif kering di beberapa wilayah Sumatera.