PEKANBARU – Potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Sumatera kembali menjadi sorotan.
Data terbaru dari BMKG menunjukkan adanya peningkatan jumlah titik panas (hotspot) yang terpantau pada Selasa (17/3/2026).
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Gita Dewi mengungkapkan, total hotspot di wilayah Sumatera hari ini mencapai 117 titik.
“Total titik panas wilayah Sumatera hari ini terpantau sebanyak 117 titik,” ujarnya.
Dari jumlah tersebut, Provinsi Riau menjadi wilayah dengan sebaran hotspot tertinggi, yakni mencapai 46 titik.
Angka ini jauh melampaui beberapa provinsi lain seperti Aceh dengan 34 titik dan Sumatera Utara sebanyak 12 titik.
Sebaran hotspot di Riau teridentifikasi tersebar di sejumlah kabupaten, dengan konsentrasi tertinggi berada di Kabupaten Pelalawan dan Bengkalis.
Rinciannya, Pelalawan 20 titik, Bengkalis 18 titik, Kampar 2 titik, Kepulauan Meranti 1 titik, Rokan Hilir 2 titik, Rokan Hulu 1 titik dan Indragiri Hilir 2 titik.
Dominasi hotspot di dua wilayah tersebut menjadi indikator meningkatnya risiko karhutla yang perlu diantisipasi secara serius oleh pemerintah daerah dan pemangku kepentingan.
Selain Riau, beberapa provinsi lain juga mencatat keberadaan titik panas, meski dalam jumlah lebih kecil, di antaranya Aceh 34 titik, Sumatera Utara 12 titik, Kepulauan Riau 10 titik, Sumatera Barat 7 titik, Bengkulu 4 titik, Sumatera Selatan 2 titik, Jambi 1 titik dan Lampung 1 titik.
Data ini menunjukkan bahwa potensi karhutla masih tersebar di hampir seluruh wilayah Sumatera, meskipun intensitasnya berbeda-beda.
Meningkatnya jumlah hotspot menjadi sinyal awal potensi kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah dengan kondisi cuaca kering dan minim curah hujan.
BMKG mengimbau agar seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan, termasuk melakukan langkah pencegahan dini untuk menekan risiko meluasnya kebakaran.