PEKANBARU – Provinsi Riau kembali menjadi wilayah dengan jumlah titik panas (hotspot) tertinggi di Pulau Sumatera.
Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika melalui BMKG Pekanbaru, total hotspot di Sumatera pada Kamis (19/3/2026) mencapai 330 titik.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Yasir mengungkapkan, hampir 60 persen hotspot terdeteksi berada di Riau.
“Total hotspot di wilayah Sumatera hari ini mencapai 330 titik, dengan sebaran terbanyak berada di Provinsi Riau sebanyak 188 titik,” ujar Yasir.
Dari data tersebut, Riau mencatat angka tertinggi dibanding provinsi lain. Di bawahnya, wilayah seperti Kepulauan Riau dan Aceh juga mencatat angka signifikan, namun masih jauh lebih rendah.
Rinciannya, di Aceh 34 titik, Kepulauan Riau 43 titik, Sumatera Selatan 17 titik, Sumatera Utara 11 titik, Jambi 9 titik, Sumatera Barat 5 titik, Bengkulu 3 titik, Lampung 2 titik dan Bangka Belitung 18 titik.
Di dalam Provinsi Riau, sebaran hotspot menunjukkan konsentrasi tinggi di wilayah pesisir dan kawasan rawan karhutla.
Rinciannya, di Kabupaten Bengkalis 67 titik, Kota Dumai 54 titik, Kabupaten Rokan Hilir 30 titik, Kabupaten Pelalawan 24 titik, Kabupaten Siak 7 titik, Kabupaten Kuantan Singingi 3 titik, Kabupaten Indragiri Hilir 2 titik dan Kabupaten Kampar 1 titik.
Yasir menegaskan, tingginya hotspot di sejumlah wilayah tersebut perlu diwaspadai sebagai indikasi awal potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Wilayah dengan jumlah hotspot tinggi seperti Bengkalis dan Dumai perlu mendapat perhatian serius karena berpotensi terjadi kebakaran lahan,” jelasnya.
Lonjakan jumlah hotspot ini menjadi sinyal penting bagi pemangku kebijakan dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama memasuki periode cuaca cenderung kering di sejumlah wilayah Riau.
Pemantauan hotspot sendiri merupakan salah satu indikator utama dalam mendeteksi potensi kebakaran hutan dan lahan sejak dini.