PEKANBARU - Provinsi Riau kembali menjadi wilayah dengan jumlah titik panas (hotspot) tertinggi di Pulau Sumatera.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru, Minggu (22/3/2026), tercatat sebanyak 207 hotspot tersebar di berbagai provinsi, dengan Riau menyumbang lebih dari separuh jumlah tersebut.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Mari Frystine mengungkapkan, dominasi hotspot di Riau masih sangat signifikan dibandingkan wilayah lain.
“Total hotspot di wilayah Sumatera hari ini mencapai 207 titik, dan Riau mendominasi dengan 126 titik,” ujarnya.
Dari total 126 hotspot di Riau, Kabupaten Pelalawan menjadi daerah dengan jumlah terbanyak, yakni 49 titik. Disusul Kota Dumai dengan 39 titik dan Kabupaten Bengkalis sebanyak 31 titik.
Sementara itu, sebaran hotspot lainnya relatif lebih kecil, masing-masing berada di Kabupaten Siak (4 titik), Indragiri Hilir (2 titik), dan Rokan Hilir (1 titik).
Tingginya jumlah hotspot di wilayah-wilayah tersebut menjadi sinyal potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang perlu diwaspadai secara serius.
Selain Riau, beberapa provinsi lain juga mencatatkan titik panas, meski jumlahnya jauh lebih rendah.
Aceh terdeteksi 20 titik, Sumatera Utara 15 titik, Kepulauan Riau 25 titik, Jambi 13 titik, Bangka Belitung 7 titik, dan Sumatera Selatan hanya 1 titik.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa konsentrasi hotspot masih terpusat di wilayah Riau, yang dalam beberapa tahun terakhir memang menjadi daerah rawan karhutla.
Hotspot merupakan indikator awal adanya potensi kebakaran hutan dan lahan. Meski tidak seluruhnya merupakan titik api aktif, peningkatan jumlah hotspot tetap menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan pemangku kepentingan.
BMKG mengingatkan bahwa kondisi cuaca, terutama minimnya curah hujan dan meningkatnya suhu udara, dapat memperbesar risiko kebakaran di wilayah rawan.