PEKANBARU - Tingginya perhatian publik terhadap konflik global kembali tercermin dari hasil survei terbaru Lembaga Survei Opini Rakyat. Survei ini mengungkap bagaimana masyarakat Kota Pekanbaru memandang perang yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Ketua Lembaga Survei Opini Rakyat, Adlin SSos MSi, menjelaskan bahwa konflik yang memanas sejak akhir Maret 2026 telah memicu perbedaan sikap di berbagai negara, termasuk di tingkat masyarakat lokal.
"Serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran yang dimulai akhir maret 2026, telah menyebabkan terbelahnya dukungan berbagai negara begitu pula masyarakatnya," ujarnya, Jumat (17/4/2026).
Untuk menangkap dinamika tersebut, lembaganya melakukan survei pada 4 hingga 17 April 2026 dengan melibatkan 53 mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Riau sebagai enumerator.
Sebanyak 520 warga Pekanbaru yang memiliki hak pilih menjadi responden, terdiri dari 260 laki-laki dan 260 perempuan. Survei menggunakan metode multistage random sampling di 15 kecamatan, dengan sampling error 5 persen dan margin error 4,5 persen.
Hasilnya menunjukkan kecenderungan yang sangat kuat. "Temuan survei menunjukan mayoritas 92,9 persen warga Pekanbaru mengharapkan Iran keluar sebagai pemenang perang mengalahkan Israel dan Amerika serikat," kata Adlin, Jumat (17/4/2026).
Sementara itu, hanya 5,6 persen responden yang mengharapkan Israel dan Amerika Serikat menang, dan 1,5 persen tidak memberikan jawaban.
Pandangan serupa juga terlihat dalam penilaian terhadap pihak yang dianggap benar dalam konflik tersebut. Sebanyak 93,5 persen responden menilai Iran berada di pihak yang benar, sedangkan hanya 4,8 persen yang memilih Israel dan Amerika Serikat, serta 1,7 persen tidak menjawab.
Adlin menjelaskan bahwa faktor kemanusiaan menjadi alasan utama di balik dukungan tersebut. "Dukungan kepada salah satu negara berperang mayoritas 72,2 persen karena alasan kemanusiaan, tindakan negara Iran membalas melawan Israel dan AS dianggap masyarakat sebagai tindakan yang benar dan pantas dibela," paparnya.
Selain itu, faktor kesamaan agama juga turut memengaruhi pilihan responden. Sebanyak 26,5 persen menyatakan dukungan karena alasan tersebut, sementara 1,3 persen tidak menjawab.