PEKANBARU — Pemantauan satelit terbaru menunjukkan aktivitas titik panas di Pulau Sumatera masih terdeteksi, meski jumlahnya relatif terkendali. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru mencatat total 47 hotspot tersebar di sejumlah provinsi hingga Minggu (19/4/2026) sore.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Mari Frystine, menegaskan bahwa pemantauan ini menjadi bagian penting dari sistem deteksi dini potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Total titik panas wilayah Sumatera sore ini terpantau sebanyak 47 titik,” ujar Mari.
Data BMKG menunjukkan distribusi titik panas tersebar di sembilan provinsi, dengan konsentrasi terbesar berada di wilayah Jambi dan Sumatera Selatan.
Rinciannya, Aceh 5 titik, Sumatera Utara 1 titik, Sumatera Barat 1 titik, Jambi 12 titik, Bengkulu 1 titik, Sumatera Selatan 11 titik, Lampung 2 titik, Kepulauan Riau 5 titik dan Riau 9 titik.
Angka ini menunjukkan aktivitas hotspot masih terjadi di sebagian besar wilayah Sumatera, meskipun jumlahnya belum tergolong tinggi.
Khusus Provinsi Riau, BMKG mendeteksi 9 titik panas yang seluruhnya terkonsentrasi di Kabupaten Pelalawan. Kondisi ini menjadi perhatian karena wilayah tersebut termasuk daerah rawan karhutla saat musim kemarau mulai mendekat.
Konsentrasi hotspot di satu kabupaten mengindikasikan perlunya kewaspadaan dini dan pemantauan intensif guna mencegah kebakaran meluas.
Pemantauan hotspot harian menjadi indikator awal dalam mitigasi kebakaran hutan dan lahan di Sumatera. Data satelit membantu pemerintah daerah dan tim penanggulangan bencana mengambil langkah pencegahan lebih cepat sebelum api membesar.
BMKG menegaskan bahwa laporan hotspot bersifat pemantauan awal yang memerlukan verifikasi lapangan untuk memastikan adanya kebakaran.