PEKANBARU - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali merilis perkembangan terbaru titik panas (hotspot) di wilayah Sumatera. Hingga pembaruan terakhir pada Sabtu malam pukul 23.00 WIB, jumlah hotspot tercatat mencapai 66 titik yang tersebar di berbagai provinsi.
Petugas BMKG Stasiun Pekanbaru, Alfa Nataris, menyampaikan bahwa data ini menjadi indikator penting dalam mendeteksi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah rawan.
“Total titik panas (hotspot) update pukul 23.00 WIB, wilayah Sumatera sebanyak 66 titik,” ujar Alfa, Minggu pagi (26/4/2026).
Dari jumlah tersebut, Provinsi Riau menjadi daerah dengan titik panas terbanyak, yakni 20 titik. Sebaran hotspot di Riau terpantau di sejumlah wilayah, dengan konsentrasi tertinggi berada di beberapa daerah pesisir dan rawan lahan gambut.
“Riau tercatat 20 titik panas, dengan rincian Kota Dumai 5 titik, Kabupaten Rokan Hilir 5 titik, Kabupaten Bengkalis 5 titik, Kabupaten Pelalawan 2 titik, Kabupaten Indragiri Hulu 1 titik, dan Kabupaten Indragiri Hilir 2 titik,” jelasnya.
Selain Riau, beberapa provinsi lain juga mencatatkan jumlah hotspot yang cukup signifikan. Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan jumlah titik panas tertinggi kedua, yakni 17 titik, disusul Jambi dengan 13 titik.
Sementara itu, provinsi lainnya seperti Bengkulu terpantau 4 titik, Sumatera Utara 4 titik, Kepulauan Riau 5 titik, Aceh 2 titik, dan Sumatera Barat 1 titik.
BMKG mengingatkan bahwa kemunculan hotspot ini perlu diwaspadai sebagai potensi awal terjadinya kebakaran hutan dan lahan, terutama di tengah kondisi cuaca yang cenderung kering di sejumlah wilayah.
Data ini diharapkan menjadi perhatian bersama, baik pemerintah daerah maupun masyarakat, untuk meningkatkan kewaspadaan dan mencegah terjadinya karhutla yang dapat berdampak luas terhadap lingkungan dan kesehatan.
“Data hotspot ini merupakan indikator awal yang harus diwaspadai bersama, terutama di daerah rawan kebakaran,” tutup Alfa.