PEKANBARU - Upaya memperkuat kualitas jurnalisme di tengah derasnya arus disinformasi terus dilakukan berbagai pihak. Tanoto Foundation menggelar Journalist Capacity Building bertema Transformasi Jurnalisme Berkualitas dan Profesional di Era Digital di Novotel Pekanbaru, Rabu (29/4/2026).
Kegiatan ini menekankan pentingnya kolaborasi antara organisasi sosial dan media untuk menjaga kualitas informasi publik di tengah perubahan lanskap media digital.
Regional Project Manager Tanoto Foundation, Dendi Satria Buana menegaskan, jurnalis memegang peran strategis dalam memastikan masyarakat memperoleh informasi yang akurat dan terpercaya.
“Informasi berkualitas merupakan pendorong kemajuan masyarakat. Peran jurnalis sangat penting untuk menjamin data yang disampaikan tetap faktual dan kredibel,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan utama saat ini adalah maraknya disinformasi yang beriringan dengan menurunnya tingkat kepercayaan publik terhadap media.
Karena itu, Tanoto Foundation berkomitmen menjadi mitra bagi jurnalis untuk mendorong produksi konten yang berdampak positif.
Fokus pemberitaan yang didorong yayasan ini mencakup sektor pendidikan, sosial, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Teknologi bukan sesuatu yang harus dihindari, tetapi perlu dikelola secara bijak dengan mengedepankan etika dalam menyampaikan informasi yang mampu memotivasi masyarakat menuju Indonesia Emas 2045,” kata Dendi.
Dalam sesi terpisah, Yefrizal dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) mengupas peran kecerdasan buatan (AI) dalam praktik jurnalistik modern.
Ia menilai AI dapat menjadi alat bantu produktivitas, namun tetap memerlukan pengawasan manusia.
“AI bisa digunakan untuk menyusun kerangka berita, tetapi produk akhir tetap harus dievaluasi. Jurnalis tetap berperan penting memverifikasi kredibilitas informasi yang dihasilkan,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur Pelatihan Jurnalistik Pekanbaru, Wahyudi El Panggabean menegaskan, wartawan harus memuat konten berita yang berimbang dan investigatif.
"Kita harus melakukan cover both sides, untuk menghindari pemberitaan sepihak (framing), menjaga netralitas, serta memberikan ruang bagi semua pihak yang terlibat," tegasnya.
Pandangan tersebut menegaskan bahwa kehadiran teknologi tidak menggantikan profesi jurnalis, melainkan memperkuat proses kerja selama tetap berpegang pada standar etika dan verifikasi.
Pelatihan ini diharapkan menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas jurnalis daerah menghadapi era digital yang penuh tantangan.
Dengan menggabungkan etika, teknologi, dan kolaborasi, kualitas jurnalisme diharapkan mampu mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap media.