PEKANBARU — Sebaran titik panas atau hotspot di Pulau Sumatera kembali menunjukkan peningkatan tajam pada Senin (24/8/2026) sore.
Data pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat terdapat 2.193 titik panas yang tersebar di sejumlah provinsi.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Ranti Kurniati mengatakan, konsentrasi hotspot tertinggi berada di Sumatera Selatan dengan 1.207 titik. Posisi berikutnya ditempati Jambi sebanyak 266 titik dan Lampung 138 titik.
Sementara itu, sejumlah wilayah lain juga terpantau memiliki hotspot, yakni Kepulauan Riau 57 titik, Bangka Belitung 77 titik, Bengkulu 19 titik, Sumatera Utara 18 titik, Sumatera Barat 13 titik, serta Aceh 9 titik.
Di Provinsi Riau, BMKG mencatat 389 titik panas pada Senin sore. Angka tersebut hanya mengalami penurunan tipis dibandingkan pemantauan sebelumnya.
Menariknya, jumlah hotspot tersebut tercatat pada hari yang sama dengan kedatangan Presiden Prabowo Subianto ke Riau.
Meski demikian, konsentrasi titik panas masih cukup tinggi di sejumlah kabupaten, terutama Pelalawan dan Indragiri Hilir.
Ranti Kurniati menjelaskan, sebaran hotspot di Riau tidak merata. Kabupaten Pelalawan menjadi daerah dengan jumlah tertinggi, yakni 153 titik, disusul Indragiri Hilir sebanyak 140 titik.
“Untuk di Riau, tepat di momen kedatangan Presiden Prabowo, jumlah titik panas hanya berkurang sedikit menjadi 389 titik,” ujar Ranti Kurniati.
Sebaran hotspot di Riau pada Senin sore meliputi Bengkalis 32 titik, Kepulauan Meranti 3 titik, Kampar 12 titik, Kuantan Singingi 1 titik, Pelalawan 153 titik dan Rokan Hilir 8 titik.
Kemudian Rokan Hulu 6 titik, Siak 6 titik, Indragiri Hilir 140 titik, Indragiri Hulu 26 titik dan Kita Pekanbaru 2 titik.
Data tersebut menunjukkan Pelalawan dan Indragiri Hilir menyumbang 293 dari total 389 hotspot Riau, atau sekitar tiga perempat dari keseluruhan titik panas yang terpantau di provinsi ini.
Kondisi tersebut membuat kedua wilayah menjadi area yang perlu mendapat perhatian dalam pemantauan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya ketika kondisi atmosfer dan cuaca mendukung munculnya titik api.
Secara regional, tingginya jumlah hotspot Sumatera juga memperlihatkan bahwa potensi karhutla masih menjadi persoalan serius.
Dari total 2.193 titik panas yang terpantau, Sumatera Selatan sendiri menyumbang lebih dari separuh keseluruhan hotspot.