PEKANBARU - Langit Provinsi Riau mungkin mulai sedikit bernapas lega hari ini. Namun, ancaman bencana kabut asap lintas provinsi nyatanya masih berada tepat di depan mata.
Saat titik api di Bumi Lancang Kuning menunjukkan grafik penurunan tajam, wilayah tetangga justru sedang "membara".
Berdasarkan pemantauan terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru pada Jumat (11/9/2026) sore, Pulau Sumatera masih terkepung oleh 645 titik panas (hotspot).
Ironisnya, Sumatera Selatan menjadi episentrum utama dengan lonjakan tajam mencapai 440 titik.
Kondisi ini menjadi alarm keras bagi Riau. Angin yang membawa asap dari provinsi tetangga bisa sewaktu-waktu mengancam kualitas udara, mengingat tingginya angka hotspot di bagian selatan pulau Sumatera.
"Sore ini total titik panas di wilayah Sumatera menyentuh angka 645 titik. Sumatera Selatan mencatatkan rekor tertinggi dengan 440 hotspot, disusul Bangka Belitung sebanyak 95 titik," tegas Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Elisa JS Kedang, Jumat (11/9/2026).
Lebih lanjut, Elisa merinci sebaran hotspot di provinsi lain yang patut diwaspadai, yakni Lampung dengan 39 titik, Jambi 16 titik, dan Kepulauan Riau 11 titik.
Di sisi lain, kewaspadaan internal di Riau tidak boleh mengendur. Meski secara akumulatif angkanya jauh menyusut menjadi 44 titik, konsentrasi api kini mengerucut di wilayah bagian selatan provinsi.
"Untuk Riau sendiri, grafiknya memang jauh menurun, hanya tersisa 44 titik api saja. Namun, sebarannya masih terpusat di Kabupaten Indragiri Hulu sebanyak 31 titik, Indragiri Hilir 12 titik, dan Kabupaten Bengkalis 1 titik," tambah Elisa.
Fakta bahwa Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir masih mendominasi hotspot lokal menunjukkan bahwa kerawanan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di perbatasan belum sepenuhnya padam.
Satgas Karhutla dituntut untuk tidak lengah, karena kombinasi sisa titik api lokal dan potensi kepungan asap dari ratusan hotspot Sumatera Selatan adalah bom waktu bagi kualitas udara Riau di puncak musim kemarau ini.