PEKANBARU - Sebaran titik panas atau hotspot di Pulau Sumatera masih menunjukkan aktivitas tinggi pada Kamis (24/9/2026) sore.
BMKG Pekanbaru mencatat 672 titik panas, dengan konsentrasi terbesar berada di Sumatera Selatan yang mencapai 376 titik.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Putri Santy mengatakan, hotspot tersebut tersebar di sejumlah provinsi.
Selain Sumatera Selatan, jumlah signifikan juga terpantau di Bangka Belitung sebanyak 136 titik dan Jambi 118 titik.
"Total titik panas wilayah Sumatera, Kamis sore ada 672 titik," ujar Putri Santy.
Sebaran hotspot di Sumatera sore ini meliputi Sumatera Selatan 376 titik, Bangka Belitung 136 titik, Jambi 118 titik dan Lampung 32 titik.
Kemudian, Kepulauan Riau 7 titik, Aceh 1 titik, Sumatera Utara 1 titik dan Riau 1 titik yang berada di Kabupaten Indragiri Hilir.
Dominasi Sumatera Selatan menjadi perhatian karena wilayah tersebut menyumbang lebih dari separuh total hotspot Sumatera pada pemantauan Kamis sore.
Jika dibandingkan dengan Riau yang hanya memiliki satu titik, konsentrasi hotspot di Sumatera Selatan mencapai 376 kali lipat.
Kondisi ini menunjukkan bahwa aktivitas panas di Pulau Sumatera tidak tersebar merata, tetapi terkonsentrasi kuat di sejumlah wilayah.
BMKG sebelumnya juga mencatat kondisi atmosfer kering masih menjadi faktor yang meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia.
Dalam analisis periode 18–24 September, BMKG menyebut pengaruh El Nino sangat kuat bersama musim kemarau membuat atmosfer relatif kering dan meningkatkan potensi karhutla.
Meski demikian, keberadaan hotspot tidak serta-merta berarti seluruh titik merupakan kebakaran hutan dan lahan.
Hotspot merupakan indikasi adanya anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tetap membutuhkan verifikasi lapangan untuk memastikan sumber serta tingkat kepercayaan titik tersebut.
Di tengah tingginya jumlah hotspot di beberapa provinsi Sumatera, kondisi Riau pada pemantauan sore relatif jauh lebih rendah. BMKG mencatat hanya satu titik panas, yakni di Indragiri Hilir.
Namun, rendahnya jumlah hotspot tidak otomatis menghilangkan risiko karhutla. BMKG dalam prospek cuaca terbarunya masih menempatkan Riau sebagai salah satu wilayah yang perlu mewaspadai kondisi cuaca dan dinamika atmosfer selama periode akhir September.
Sebagai pembanding, laporan BMKG Pekanbaru yang dikutip Media Center Riau pada pagi hari juga menunjukkan angka hotspot yang berbeda, yakni 451 titik di Sumatera dan enam titik di Riau.
Perbedaan angka tersebut dapat terjadi karena pemantauan hotspot bersifat dinamis dan diperbarui berdasarkan waktu serta hasil penginderaan satelit.
Dengan demikian, perubahan jumlah hotspot sepanjang hari perlu dibaca sebagai data pemantauan pada waktu tertentu, bukan sebagai angka tetap sepanjang hari.