PEKANBARU - Aktivitas titik panas atau hotspot di Pulau Sumatera kembali menunjukkan konsentrasi tinggi pada Jumat (25/9/2026) sore.
Dari total 726 titik panas, hampir dua pertiganya berada di Sumatera Selatan yang mencapai 487 titik.
Data tersebut disampaikan Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Indah. Sementara di Riau, BMKG mendeteksi 8 hotspot yang tersebar di empat wilayah.
"Total titik panas wilayah Sumatera sore ini ada 726 titik," ujar Indah.
Sebaran hotspot di Riau masing-masing berada di Dumai sebanyak 2 titik, Pelalawan 2 titik, Rokan Hilir 1 titik, dan Indragiri Hulu 3 titik.
Angka tersebut menunjukkan aktivitas panas di Riau masih terpantau, meski jumlahnya jauh lebih rendah dibandingkan provinsi yang menjadi pusat konsentrasi hotspot di Sumatera.
Secara regional, Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan jumlah hotspot paling tinggi, yakni 487 titik. Setelah itu, Bangka Belitung mencatat 95 titik dan Lampung 78 titik.
Sebaran hotspot Sumatera berdasarkan pemantauan BMKG pada Jumat sore meliputi Sumatera Selatan 487 titik, Bangka Belitung 95 titik, Lampung 78 titik dan Jambi 38 titik.
Kemudian, Bengkulu 8 titik, Riau 8 titik, Sumatera Barat 7 titik, Sumatera Utara 3 titik dan Aceh 2 titik.
Dengan total 726 hotspot, kondisi tersebut menunjukkan bahwa potensi kebakaran hutan dan lahan masih menjadi perhatian di sejumlah wilayah Sumatera.
Namun, keberadaan hotspot tidak secara otomatis berarti seluruh titik merupakan kebakaran hutan dan lahan karena perlu dikonfirmasi dengan data lapangan dan indikator pendukung lainnya.
Untuk Riau, konsentrasi hotspot tersebar di empat daerah. Indragiri Hulu menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, yakni tiga titik, disusul Dumai dan Pelalawan masing-masing dua titik serta Rokan Hilir satu titik.
Pemantauan hotspot menjadi penting terutama ketika kondisi atmosfer dan tutupan lahan mendukung perkembangan api.
Data satelit karenanya perlu terus dikombinasikan dengan verifikasi lapangan untuk memastikan tingkat ancaman sebenarnya.