PEKANBARU - Titik kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Provinsi Riau kini dilaporkan nihil. Namun, kondisi tersebut belum membuat penanganan Karhutla dihentikan.
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) masih digencarkan untuk menjaga kelembapan lahan, terutama kawasan gambut yang rentan kembali terbakar ketika kondisi kering.
Kalaksa BPBD Damkar Riau, M Edy Afrizal mengatakan, seluruh titik Karhutla yang sebelumnya masih terpantau di sejumlah wilayah telah berhasil dipadamkan.
Sebelumnya, kebakaran masih terjadi di Kabupaten Inhil, Inhu dan Bengkalis. Namun, berdasarkan pemantauan terbaru, tidak ada lagi titik api yang dilaporkan aktif.
“Karhutla di Riau sudah nihil. Beberapa titik yang sebelumnya terbakar sudah padam,” kata Edy, Minggu (27/9/2026).
Meski api telah padam, ancaman Karhutla belum sepenuhnya berakhir. Pemerintah daerah memilih mempertahankan OMC sebagai langkah antisipasi, khususnya untuk mencegah lahan gambut kembali mengering dan menjadi sumber kebakaran baru.
Edy menjelaskan, OMC dilakukan dengan memanfaatkan awan yang memiliki potensi untuk menghasilkan hujan.
Pesawat akan diterbangkan ketika kondisi atmosfer dinilai memungkinkan untuk dilakukan penyemaian awan.
“OMC masih terus dilakukan. Hal ini sebagai upaya antisipasi membasahi lahan terutama lahan gambut yang mudah terbakar jika kering,” ujarnya.
Keputusan mempertahankan OMC menunjukkan bahwa nihilnya titik api belum dianggap sebagai akhir dari periode rawan Karhutla di Riau.
Operasi tersebut akan dilanjutkan hingga kondisi cuaca memasuki musim hujan secara konsisten.
Menurut Edy, pelaksanaan OMC bersifat situasional. Ketika ditemukan awan potensial, operasi akan segera dilakukan untuk memaksimalkan peluang turunnya hujan di wilayah yang membutuhkan tambahan kelembapan.
“Jika ada awan potensial akan langsung dilakukan OMC sampai cuaca di Riau benar-benar memasuki musim hujan,” katanya.
Langkah tersebut menjadi penting karena pemadaman api hanya menyelesaikan persoalan di permukaan.
Pada kawasan gambut, risiko kebakaran dapat kembali meningkat apabila lapisan lahan mengalami kekeringan dan kondisi atmosfer kembali mendukung terjadinya kebakaran.
Besarnya perhatian terhadap pencegahan tidak terlepas dari akumulasi dampak Karhutla sepanjang tahun.
Data BPBD Damkar Riau mencatat total luas lahan yang terbakar di provinsi tersebut telah mencapai 20.597,23 hektare.
Bengkalis tercatat sebagai daerah dengan luasan lahan terbakar terbesar di Riau, yakni 8.569,25 hektare.
Angka tersebut berasal dari 4.305 hotspot dan 73 fire spot yang tercatat di wilayah tersebut.
Pelalawan berada di posisi berikutnya dengan luas lahan terbakar mencapai 6.710,21 hektare, dengan 3.787 hotspot.
Sementara itu, luas lahan terbakar di sejumlah daerah lainnya tercatat:
Inhu: 1.631,95 hektare
Inhil: 1.381,54 hektare
Dumai: 651,09 hektare
Rohil: 445,47 hektare
Siak: 429,72 hektare
Kepulauan Meranti: 307,91 hektare
Kampar: 171,67 hektare
Kuansing: 129,32 hektare
Pekanbaru: 106,73 hektare
Rohul: 62,37 hektare
“Untuk wilayah lain yakni Rohil 445,47 hektare, Siak 429,72 hektare, Meranti 307,91 hektare, Kampar 171,67 hektare, Kuansing 129,32 hektare, Pekanbaru 106,73 hektare dan Rohul 62,37 hektare,” pungkasnya.