Oleh: Riki Ariyanto
Satu dekade sudah Ipda Jimmi istiqamah mengajarkan anak-anak mengaji, mengentaskan buta aksara Al-Qur’an. Tak harap pujian, ia ikhlas mengabdi di tengah masyarakat.
PEKANBARU - Usai Salat Isya, suasana sunyi menyelimuti Kampung Bandar, Kecamatan Senapelan, Pekanbaru. Pantulan cahaya lampu temaram dari Jembatan Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzamsyah, menari-nari di atas permukaan air Sungai Siak.
Sekitar 30 meter dari tepi Sungai Jantan atau Sungai Siak itu, ada Rumah Toko (Ruko) tiga pintu yang sekilas tampak seperti gudang. Namun dari dalam, sayup-sayup terdengar suara anak-anak melantunkan ayat suci Al-Qur’an.
Di lantai dua, seorang pria berkaca mata mengenakan gamis biru, duduk menyimak bacaan mereka. Sesekali ia mengoreksi bacaan. Suaranya tegas, namun hangat.
Pria itu bernama Jimmi Farma Simajuntak (48). Dia bukan pengajar biasa. Sehari-hari berprofesi sebagai polisi berpangkat Inspektur Polisi Dua (Ipda), berdinas di Polda Riau.
“Ruko ini dulu memang gudang,” katanya membuka cerita pada Jumat malam (19/12/2025).
Tahun 2015, Jimmi prihatin karena banyak anak-anak di sekitar tempat tinggalnya yang belum pandai membaca Al-Qur’an. Sebagai warga tempatan, dia merasa punya tanggung jawab moral. Setidaknya ia ingin sedikit membantu pemerintah daerah mengentaskan buta aksara Al-Qur’an.
Motivasi itu mendorongnya untuk mendirikan Pondok Tahsin Baitul Ihsan Pekanbaru, sebagai tempat mengaji dan memperbaiki bacaan Al-Qur’an. Kegiatan itu mulanya berlangsung di rumahnya yang sederhana. Namun kini, aktivitas itu pindah ke Ruko ini.
“Alhamdulillah pemilik bangunan membolehkan untuk saya dan anak-anak memanfaatkannya. Semua biaya operasional seperti listrik ditanggung pemilik Ruko,” ujarnya.
Baginya, peran Polri bukan cuma sebagai pelayan keamanan masyarakat. Tetapi juga sebagai pengayom di tengah masyarakat.
Jimmi membacakan sebuah hadis Rasulullah SAW: Sebaik-baiknya kalian adalah yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya. “Hadis ini sangat berkesan bagi saya. Itu pula yang menguatkan saya hingga sekarang,” ujar bapak tiga anak ini.
Jimmi memang tidak punya pendidikan formal di Pondok Pesantren. Dia belajar membaca dan memahami tajwid secara autodidak, dan belajar dari para ustaz. Dengan niat tulus, ilmu yang diperoleh lalu dibagikan ke masyarakat.
Awalnya, hanya lima murid yang diajarkan. Seiring waktu, murid di rumah tahsin ini bertambah 150 orang. Belakangan mereka tidak hanya para anak-anak, tapi remaja, bahkan para orang tua turut serta belajar tahsin bersamanya.
Sudah 10 tahun berjalan, ada 300 orang belajar yang dibina di Baitul Ihsan. Rata-rata dari mereka adalah dari kalangan prasejahtera dan anak-anak yatim.
Sekarang Jimmi dibantu muridnya di angkatan pertama yang ingin mengabdi. Para murid tidak dipungut biaya, dan para pengajar tidak pernah digaji sepeser pun.
“Saya memang niatkan diri saya dan kami semua, untuk mengajar karena Allah. Biar Allah SWT yang membalas di akhirat nanti. Dakwah di jalan Allah ini nilainya sangat besar,” ujarnya rendah hati.
Bagi Jimmi, menjalankan rumah tahsin ini sama dengan membangun ladang pahala. Biarkan semuanya berjalan mengalir, ikhlas, sesuai dengan nama Baitul Ihsan yang berarti “rumah kebaikan”. Mereka yang terlibat di dalamnya hanya ingin berbuat baik, tanpa pamrih.
"Alhamdulillah mungkin ini karena hidayah Allah. Saya hanya berdoa kepada Allah supaya dimudahkan di jalan ini," katanya.
Menjadi guru ngaji tidak membebani kesehariannya sebagai abdi negara. Bahkan, dia merasa semuanya seiring sejalan. Apalagi sesuai arahan Kapolri Listyo Sigit Prabowo yang mana seluruh anggota polisi sebagai mitra publik, dengan selalu menghadirkan sentuhan humanis dalam setiap menjalankan tugas. Sehingga polisi benar-benar dicintai rakyat.
“Bahkan saat nanti saya pensiun, saya akan tetap berada di jalan dakwah ini. Sebagai bekal saya nanti,” ujarnya.

(Selain mengajarkan anak-anak, Ipda Jimmi Farma juga mengajarkan orang dewasa secara gratis/foto-riki)
Guru Ngaji Idola Masyarakat
Bagi warga sekitar, Ipda Jimmi memang panutan. Dia tak hanya dikenal lewat seragam coklatnya, tapi dari ketulusan sebagai pengajar di Baitul Tahsin.
Seperti yang diutarakan Agus (50). Ia bersyukur anaknya bisa mengisi waktu dengan kegiatan positif. “Alhamdulillah, anak saya enggak keluyuran malam, enggak main HP terus. Sekarang waktunya banyak dipakai buat mengaji,” ucap Agus saat menjemput anaknya.
Kesan positif juga datang dari Nurul Fitria (25), salah satu murid pertama Pak Jimmi yang kini ikut mengajar. Nurul awalnya ragu untuk belajar tahsin karena merasa sudah bisa mengaji.
“Waktu itu saya pikir, ‘buat apa belajar lagi?’ Tapi setelah ikut kelas, ternyata banyak yang belum saya pahami, terutama tajwid,” tutur alumni UIN Suska Riau itu.
Setelah setahun belajar, kemampuan bacaannya meningkat. Ia lalu diminta untuk ikut mengajar, yang kemudian disanggupi Nurul.
Baginya, Ipda Jimmi bukan hanya guru, tapi sudah seperti orang tua sendiri. “Enggak galak sama sekali, malah asyik. Kadang kalau ngobrol suka selipin candaan juga, tapi tetap saling menghargai,” ucapnya tersipu.
Langkah mulia Jimmi dalam membina anak-anak belajar Al-Qur’an diapresiasi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pekanbaru, Prof Akbarizan. Menurutnya, Jimmi membuktikan seorang aparat juga bisa menebar cahaya ilmu dan kebaikan di tengah masyarakat.
“Beliau membantu program pembinaan umat, terutama dalam mengajarkan Al-Qur’an. Itu sangat bagus sekali,” kata Prof Akbarizan, Sabtu (27/12/2025).
Apalagi memang masih banyak umat Islam di Pekanbaru belum bisa membaca Al-Qur’an. Makanya, langkah kecil yang dilakukan Jimmi sangat berarti.
Prof Akbarizan juga menekankan upaya seperti ini memberi manfaat jangka panjang, bahkan turut meringankan beban polisi di lapangan.
“Kalau sejak kecil anak-anak sudah dekat dengan Al-Qur’an dan nilai-nilainya, tentu mereka tidak akan mudah terjerumus ke hal-hal negatif seperti narkoba, tawuran, atau begal. Polisi jadi bisa fokus ke tugas lainnya,” pungkasnya.
Masalah buta aksara Al-Qur’an di Pekanbaru menjadi perhatian serius. Data Kemenag Pekanbaru, per Februari 2023, 2,5 persen dari 823.115 jiwa umat Islam tercatat buta aksara Al-Qur’an.
Sementara itu, data yang dirilis Pemko Pekanbaru, menyebutkan ada 11 ribu lebih pelajar SD dan SMP di Pekanbaru belum bisa baca Al-Qur’an. Untuk mengentaskan masalah ini, sejumlah program sudah diluncurkan, seperti Pekanbaru Cinta Al-Qur’an dan Pekanbaru Mengaji.

(Kapolri Listyo Sigit Prabowo meluangkan waktu khusus untuk bertemu dengan Aiptu Jimmi yang mengabdikan diri menjadi guru di Pekanbaru/foto-istimewa)
Kapolri Hadiahkan Sekolah Perwira Gratis
Menjelang siang, Kapolri Listyo Sigit Prabowo meluangkan waktu khusus untuk bertemu dengan Jimmi yang saat itu berpangkat Ajun Inspektur Polisi Satu (Aiptu). Orang nomor satu di Kepolisian itu ingin bertemu Ps Kasi Humas Polsek Rumbai Pesisir, Polresta Pekanbaru, setelah kagum mendengar cerita pengabdian Jimmi. Kapolri Listyo datang ke Polsek Rumbai Pesisir didampingi Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan.
“Ini kenapa pangkatnya masih bengkok-bengkok dua? Kenapa belum sekolah?” tanya Kapolri, Jumat (25/6/2025).
“Siap, sudah tes tapi tidak lulus jenderal,” kata Jimmi.
“Ya sudah, besok kamu lulus,” ujar Kapolri tegas, sambil menepuk pundak Jimmi.
“Siap jenderal!” jawabnya.
“Yang penting kamu terus berbuat baik untuk masyarakat. Salam buat keluarga,” pesan Kapolri sebelum mengakhiri pertemuan.
Hingga kini, momen itu masih terngiang di ingatannya. Ipda Jimmi tak pernah membayangkan berjumpa dengan Kapolri setelah 27 tahun berkarir sebagai polisi. Apalagi 12 Desember lalu bisa dilantik sebagai seorang perwira.
“Mimpi bisa sekolah perwira gratis oleh Kapolri saja saya tidak pernah. Tapi mungkin Allah sudah takdirkan, saya terima,” kata Jimmi bersyukur.
Saat ini Jimmi hanya berharap agar dipermudah segala urusan untuk tetap di jalan dakwah. Ia bertekad agar seluruh anak-anak di sekitarnya tidak hanya bisa mengaji, tetapi juga mampu mengamalkan ajaran Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari.
Aksi nyata yang dilakukan Ipda Jimmi merupakan representasi nyata dari Polri yang presisi, humanis, dan peduli pendidikan. Ini membuktikan Bhayangkara tidak hanya hadir menjaga keamanan, tetapi mampu menjadi agen perubahan sosial yang humanis. Polri bukan sekedar profesi, tetapi juga pengabdian kepada seluruh rakyat Indonesia. (*)