PEKANBARU – Pemerintah Kota Pekanbaru terus menggencarkan berbagai program untuk mengentaskan stunting di Kota Bertuah. Upaya ini dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor guna memastikan pemenuhan nutrisi bagi anak-anak yang terindikasi stunting.
Walikota Pekanbaru, Agung Nugroho, menyebutkan bahwa sepanjang 2025 lalu, Pemko Pekanbaru berhasil menangani lebih dari 3.000 kasus stunting. Capaian tersebut menjadi modal optimisme untuk menekan angka kasus hingga nol.
“Kita targetkan Pekanbaru bisa zero stunting,” ujar Agung, Jumat (20/2/2026).
Meski demikian, ia mengakui tantangan yang dihadapi tidak ringan. Terlebih, transfer kas daerah dari pemerintah pusat tahun ini berkurang hingga Rp400 miliar. Kondisi tersebut membuat pemerintah kota perlu menggandeng dunia usaha agar program pengentasan stunting tetap berjalan optimal.
“Dengan keadaan saat ini transfer kas daerah dari pusat itu berkurang Rp400 miliar tahun ini, tentu kami mengajak sama-sama berkolaborasi membangun Kota Pekanbaru,” ucapnya.
Sebagai langkah konkret, Pemko telah membentuk Badan Stunting Pekanbaru dengan pola kerja sama bapak angkat atau bapak asuh bagi anak stunting. Melalui skema ini, perusahaan dapat berperan langsung membantu pembiayaan pemenuhan gizi anak-anak yang membutuhkan.
Pendataan dilakukan oleh Dinas Kesehatan bersama camat, lurah, RT, RW hingga kader posyandu untuk memastikan bantuan tepat sasaran. Data tersebut kemudian disampaikan kepada badan usaha yang bersedia berkolaborasi.
Agung menjelaskan, dibutuhkan anggaran sekitar Rp1.200.000 per bulan untuk penanganan satu anak stunting, dengan masa intervensi selama tiga bulan. Bantuan akan dikelola oleh kader posyandu yang bertugas menyiapkan dan menyalurkan makanan bergizi kepada anak-anak penerima manfaat.
Melalui pola kolaboratif ini, Pemko Pekanbaru berharap penanganan stunting bisa lebih masif dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat kepedulian bersama dalam membangun generasi yang sehat dan berkualitas.