PEKANBARU – Satu tahun berjalan di bawah kepemimpinan Walikota Agung Nugroho dan Wakil Walikota Markarius Anwar, arah pembangunan Kota Pekanbaru mulai menunjukkan pola yang lebih sistematis dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Berbagai program yang sebelumnya dirancang kini mulai terealisasi dalam bentuk kebijakan konkret.
Fokus pembangunan tidak lagi bersifat parsial, melainkan menyatu dalam visi besar menjadikan Pekanbaru sebagai kota bersih, sehat, kompetitif, dan berkelanjutan.
“Sejak awal kami berkomitmen bahwa setiap program harus dirasakan langsung oleh masyarakat. Bukan sekadar rencana, tapi benar-benar diwujudkan secara bertahap dan terukur,” ujar Agung Nugroho.
Salah satu kebijakan yang langsung dirasakan warga adalah penyesuaian tarif parkir kendaraan bermotor. Langkah ini dinilai sebagai bentuk keberpihakan pemerintah terhadap kebutuhan harian masyarakat.
Di sektor lingkungan, Pemko Pekanbaru menggencarkan gerakan “Serbu Sampah” dengan membentuk Lembaga Pengelolaan Sampah (LPS) di 83 kelurahan.
Penegakan hukum terhadap pembuangan sampah ilegal juga diperketat sebagai bagian dari upaya menciptakan kota yang lebih tertib.
Masalah banjir yang selama ini menjadi persoalan klasik ditangani dengan pendekatan terintegrasi. Pemerintah kota mencatat telah melakukan intervensi di 20 titik rawan banjir.
Normalisasi sungai dilakukan sepanjang 78,2 kilometer, sementara perbaikan drainase dan daerah aliran sungai (DAS) mencapai 109,5 kilometer. Upaya penghijauan juga diperkuat dengan penanaman 15 ribu pohon.
“Masalah klasik seperti banjir dan sampah kami tangani dengan pendekatan sistematis, tidak lagi parsial. Ini butuh waktu, tapi progresnya sudah terlihat,” jelas Agung.
Di sektor pendidikan, Pemko meluncurkan program beasiswa dari jenjang S1 hingga S3, termasuk bagi para hafiz Al-Qur’an.
Program Zero Putus Sekolah juga mencatat capaian dengan menjaring 1.778 anak, di mana 757 di antaranya telah kembali bersekolah.
Sementara di bidang kesehatan, layanan pemeriksaan gratis dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) digulirkan untuk pelajar serta kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Di sektor budaya, Pekanbaru berhasil meraih juara dua MTQ tingkat Provinsi Riau serta sukses menggelar MTQ ke-57 tingkat kota.
Festival Kreatif Budaya Melayu juga menjadi ajang strategis dalam mendorong pelestarian budaya sekaligus menggerakkan UMKM lokal.
Pemberdayaan masyarakat turut diperkuat melalui bantuan Rp100 juta per RW, sementara peningkatan kapasitas aparatur diwujudkan lewat pengangkatan PPPK dan pemberian tunjangan kinerja ke-14.
Perbaikan infrastruktur menjadi salah satu capaian signifikan. Lebih dari 42 kilometer jalan telah diperbaiki, 42 halte diremajakan, serta penerangan jalan dan fasilitas WiFi gratis mulai tersedia di sejumlah titik.
Untuk menjaga stabilitas harga pangan, bazar murah digelar di 50 lokasi. Di sisi lain, layanan publik juga dipercepat, termasuk pengurusan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) yang kini bisa diselesaikan dalam waktu satu jam.
Tak hanya itu, Pemko Pekanbaru juga berhasil melunasi utang daerah sebesar Rp467 miliar, menunjukkan perbaikan dalam tata kelola keuangan.
Sebagai langkah inovatif, Pemko mulai mengembangkan teknologi pengolahan sampah menjadi energi (waste to energy/WTE).
Selain itu, Tim Reaksi Cepat (TRC) Pekanbaru Aman 112 diluncurkan untuk meningkatkan respons terhadap kondisi darurat.
“Atas kerja keras bersama, Pekanbaru juga mendapat apresiasi dari pemerintah pusat dengan meraih peringkat dua nasional dalam Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026, khususnya dalam penurunan angka kemiskinan dan stunting,” ungkap Agung.