www.halloriau.com


BREAKING NEWS :
Cerita dari Ruang Setara: Perjuangan Teman Tuli untuk Berdaya
Otonomi
Pekanbaru | Dumai | Inhu | Kuansing | Inhil | Kampar | Pelalawan | Rohul | Bengkalis | Siak | Rohil | Meranti
 


Cerita dari Ruang Setara: Perjuangan Teman Tuli untuk Berdaya
Rabu, 21 Oktober 2026 - 03:58:57 WIB
Cafe Ruang Setara memberdayakan karyawan tunarungu di Jalan Abdullah Munsyi, Kota Pekanbaru (foto/Riki)
Cafe Ruang Setara memberdayakan karyawan tunarungu di Jalan Abdullah Munsyi, Kota Pekanbaru (foto/Riki)

Oleh Riki Ariyanto

PEKANBARU – Hampir setiap hari, rumah di Jalan Abdullah Munsyi, Kota Pekanbaru dipenuhi kesibukan. Seperti pagi itu, ada Boy yang fokus mencatat pesanan pelanggan lewat tablet digital. Lalu tepat di sampingnya, Yulia sedang mengenakan apron barista kesayangannya. Dua minuman best seller telah dipesan: es kopi setara dan matcha.

Di sudut ruangan, Cici keluar dari balik pintu dapur. Ia membawa cireng sambal rujak dan nasi goreng di atas nampan dengan pelan-pelan. Gadis berjilbab itu melempar senyuman hangat tatkala meletakkan pesanan di meja.

Tidak ada suara musik di sini. Sunyi. Bahkan kursi yang berdecit dan deru mesin kopi terdengar jelas memecah keheningan.

Rumah bercat putih ini sudah direnovasi jadi kafe dan dibuka sejak akhir Juni 2026 lalu. Namanya Cafe Ruang Setara. Ruangannya cukup luas, tersedia tempat duduk untuk 45 orang. Ada indoor dan outdoor, juga tersedia ruangan VIP.

Namun, ada yang membuat tempat ini terasa berbeda. Karyawannya berkomunikasi dengan cara yang tidak biasa. Mereka menggunakan bahasa isyarat.

Memang kafe ini memberdayakan teman-teman disabilitas, khususnya tunarungu. Boy, Yulia, dan Cici, merupakan tunarungu atau teman tuli. Ketiganya kehilangan fungsi pendengaran sejak kecil.

Namun, kondisi tersebut tidak membatasi kecakapan mereka bekerja di kafe yang dikelola Koperasi Melangkah Bersama Disabilitas Sejahtera ini. Dalam sunyi, ketiganya tetap punya kesempatan menunjukkan kemampuan, serta membangun kepercayaan diri melalui interaksi langsung dengan pelanggan.

Itu disampaikan Lianny Rumondor, pengurus koperasi sekaligus pengawas Cafe Ruang Setara. “Mereka punya kemampuan,” ujar Lianny memulai cerita. “Yang mereka butuhkan bukan dikasihani, tetapi kesempatan untuk menunjukkan kemampuan,” sambungnya saat dijumpai awal Oktober 2026.

Seperti Yulia Vorna (40), perempuan asal dari Payakumbuh, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) itu pernah bekerja di usaha kain milik keluarga. Kemudian Boy (enggan menyebut nama aslinya, red) pernah bekerja di salah satu konveksi di Jakarta. Serta Cici Petri Yenti (22) merupakan penerima manfaat dari UPT Pemberdayaan Penyandang Disabilitas Daksa (PPDD) Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Riau. Cici sudah mendapat bekal soft skill atau keahlian di UPT sebelum akhirnya diterima bekerja di kafe ini.

Yulia selain menjadi barista, ia juga bisa menjadi kasir. Begitu pula dengan Boy, jika Yulia berhalangan masuk atau pesanan sedang banyak, dirinya juga bisa berperan sebagai barista. Untuk Cici, keahliannya sudah mulai bertambah, kini kepala dapur bisa melepasnya untuk membuat menu makanan ringan seperti kentang goreng, cireng, hingga sosis goreng. Sebagai pendamping ada dua orang non-disabilitas yang bekerja untuk bagian head kitchen dan suvervisor. Total lima orang karyawan Ruang Setara.

boy cafe ruang setara.jpeg
(Boy, kasir Cafe Ruang Setara sedang melayani pesanan pelanggan menggunakan tablet digital/foto-riki)

Kata Lianny, Ruang Setara hadir agar penyandang disabilitas diberi kesempatan untuk bekerja. “Kebetulan teman-teman dari disabilitas sensorik atau teman tuli ini yang lolos dan bersedia lanjut bekerja di sini,” kata Ketua Forum Komunikasi Keluarga Anak dengan Kedisabilitasan (FKKADK) Provinsi Riau itu.

Setiap orang punya hak yang sama untuk mendapatkan pekerjaan tanpa ada diskriminasi, termasuk mereka yang dari komunitas disabilitas. Itu bahkan diatur dalam UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, yang mewajibkan perusahaan swasta memenuhi kuota pekerja disabilitas minimal 1%, sedangkan instansi Pemerintah, BUMN, dan BUMD kuotanya lebih banyak minimal 2%.

Berdasarkan Data Nasional Penyandang Disabilitas (DNPD) tahun 2026, Kementerian Sosial (Kemenkos) mencatat ada sekitar 14,8 juta jiwa penyandang disabilitas. Terdiri dari beragam kondisi seperti disabilitas mental, disabilitas fisik, disabilitas sensorik, hingga disabilitas intelektual.

Berdasarkan data pemerintah tahun 2024, jumlah penyandang disabilitas sedang dan berat di Riau mencapai 54 ribu jiwa, dengan 22 ribu di antaranya telah bekerja, selebihnya masih belum memiliki pekerjaan. Kemudian Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Riau mencatat sekitar 1.200 lebih penyandang disabilitas yang ada di Kota Pekanbaru, Riau. Artinya masih ada persoalan yang menyebabkan belum optimalnya penyerapan tenaga kerja disabilitas.

Dalam penelitian Septiani (2020) berjudul Strategi Pemberdayaan Soft Skills Penyandang Disabilitas di Deaf Café and Car Wash Cineredepok mendapati penyandang disabilitas sering dipandang sebagai orang yang tidak dapat mendapatkan pekerjaan seperti orang lain atau non-disabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberdayaan telah mengubah hidup orang dengan disabilitas menjadi lebih mampu, mandiri, dan percaya diri.

Sejatinya konsep setara yang diusung kafe ini bermaksud, bahwa difabel tidak harus menjadi orang lain, agar bisa mendapatkan pekerjaan. Namun, tetap menjadi diri mereka sendiri dengan “keistimewan” yang dimiliki.

“Tujuan hadirnya kafe ini selain bisa menginspirasi, juga jadi tempat orang lain belajar tentang empati dan keberagaman manusia. Masyarakat tidak perlu lagi hanya memandang penyandang disabilitas dengan rasa iba atau dikasihani. Karena mereka (difabel) bisa kok berkemampuan, asal diberi ruang yang tepat,” katanya.

lianny cafe ruang setara.jpeg
(Lianny Rumondor (kiri), pengurus Koperasi Melangkah Bersama Disabilitas Sejahtera sekaligus pengawas Cafe Ruang Setara saat ngobrol dengan Boy menggunakan bahasa isyarat/foto-riki)

Seperti dalam penelitian yang dilakukan Atiyah (2026) dengan judul Strategi Program Pelatihan bagi Penyandang Disabilitas Tunarungu di Kopi Tuli Tebet di Jakarta Selatan menunjukkan kafe bisa berfungsi sebagai tempat kerja inklusif yang juga memberikan edukasi publik tentang budaya Tuli. Identitas komunitas tuli memiliki bahasa, nilai, dan budaya yang kaya dengan Bahasa isyarat sebagai pusatnya. Tetapi lingkungan yang belum inklusif sering menjadi hambatan.

Dengan begitu, kafe Ruang Setara telah menjelma bukan sekedar Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menjual makanan dan minuman semata. Namun, menjadi ruang bagi mereka yang non-disabilitas dan tunarungu bisa saling berinteraksi dan saling memahami.

“Teman tuli ini dengan senang hati bersedia mengajari, kalau ada teman dengar (pelanggan) yang mau belajar bahasa isyarat. Karena kafe ini ingin memberikan experience yang berbeda, tetapi bermakna,” ujar Juru Bahasa Isyarat (JBI) itu.

Untuk saat ini, Lianny bersama pengurus koperasi lainnya tidak menargetkan sesuatu yang besar. Baginya, terpenting bagaimana orang lain tahu ada Ruang Setara di Kota Bertuah ini. Kalau orang ramai datang, kafe bisa tetap eksis dan bisnisnya tumbuh. Agar bisa memberdayakan penyandang disabilitas lebih banyak lagi.

“Tantangnya, lokasi kafe ini tidak berada di pinggir jalan besar, masuk ke gang kan. Kita bersyukur ada perusahaan yang bantu sewakan ini. Sekarang tugasnya memikirkan cara agar orang banyak mampir ke sini. Supaya kafe ini bisa tetap ada profit dan punya potensi terus tumbuh,” sambungnya.

Ruang Digital Menembus Batas
Jika dilihat dari lokasinya, Ruang Setara lebih cocok disebut hidden gem di jantung Kota Bertuah. Karena lokasinya tidak berada di tengah pusat keramaian, tidak di pinggir jalan raya.

Itu disadari Cici Septianis, suvervisor Cafe Ruang Setara sekaligus pendamping. “Pelanggan yang datang sebenarnya ada sih setiap hari. Bahkan kalau ramai kita sampai kewalahan. Namun, kalau sepi ya kita lebih banyak menungnya,” kata Septi sambil tertawa.

Maka itu dirinya memanfaatkan ruang digital terutama di media sosial atau medsos untuk terhubung dengan calon pelanggan. Membagikan informasi ke warganet, bahwa kafe ini unik dan istimewa.

“Saat ini untuk medsos masih aku yang handle. Bikin-bikin konten, posting di Instagram dan TikTok. Lumayan, respons warganet bagus, banyak yang penasaran mau ke sini,” kata sarjana Psikologi, Universitas Islam Riau (UIR) itu.

Dalam pembuatan konten, Cici, Boy, dan Yulia ikut berpartisipasi. Malah ketiganya jadi bintang utama dalam video yang dibuat. Mereka tetap mempertahankan pemakaian bahasa isyarat sebagai jembatan komunikasi dengan audiens.

“Dalam konten mereka tidak menjadi orang lain. Kak Yulia, Bang Boy, dan Cici tetap menjadi diri mereka sendiri. Cuma konsepnya saja yang kita bikin lebih menghibur,” tambah Septi, Selasa (13/10/2026).

cici help kitchen ruang setara.jpeg
(Cici Petri Yenti, help kitchen tetap menggunakan bahasa isyarat saat membuat video konten medsos Cafe Ruang Setara/foto-riki)

Setelah Ruang Setara go digital, siapa sangka menarik sejumlah konten creator dan food influencers datang. Bahkan video-video para kreator banyak yang viral baik di medsos.

“Konten kreator menolong banget sih. Karena mereka datang suka rela. Konten yang dibuat juga informatif. Konten mereka menghubungkan kami ke pasar yang lebih luas,” katanya.

Peluang bisnis untuk dikenal lebih jauh melalui ruang digital memang sangat besar. Itu diperkuat hasil survei yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) di 38 provinsi di Indonesia menunjukkan bahwa tren digitalisasi terus berkembang. Pada tahun 2025, penetrasi internet 80,66%, dengan 229 juta pengguna, naik menjadi 81,72% pada tahun 2026, dengan 235,26 juta orang menggunakan internet.

Ponsel masih menjadi cara utama untuk mengakses internet, 84,31% dari pengguna internet menggunakan ponsel pintar untuk melakukannya. Data menunjukkan bahwa perangkat ponsel terus menjadi metode yang paling sederhana dan terjangkau bagi masyarakat untuk mengakses layanan digital. Selain itu, sebagian besar aktivitas, seperti menggunakan media sosial, aplikasi chat, layanan bank digital, berbelanja online, dan menikmati hiburan digital, dilakukan hanya melalui ponsel.

Seperti yang diakui Susanti, karyawan swasta di Pekanbaru ini datang ke Ruang Setara karena melihat dari medsos. Karena penasaran dirinya langsung datang untuk mendapatkan pengalaman berinteraksi dengan bahasa isyarat.

“Awalnya lihat di Instagram. Karena enggak begitu jauh dari kantor, sekalian mampir ke sini. Pertamanya agak canggung mau pesan, untung dibantu sama Bang Boy tadi,” katanya saat ditemui di Ruang Setara. “Butterscotch-nya enak, bakal jadi favorit aku nih.”

Selain itu, ia juga sempat minta diajari menggunakan bahasa isyarat. “Baru hapal gerakan bilang ‘terima kasih’ dan ‘sama-sama’ nih,” kata Susanti sambil tertawa.

Sementara itu Heri Yulianto, yang akrab disapa Bang Mandoer, salah satu yang memanfaatkan kemudahan akses internet untuk membangun akun medsos @Lemak_Baik. Saat ini pengikutnya di Instagram sudah hampir 9 ribu pengikut dan TikTok hampir 5 ribu pengikut. Ia memanfaatkan hobinya yang sering jajan, untuk bikin konten kuliner di tempat-tempat menarik atau hidden gem yang ada di Pekanbaru, untuk kemudian diunggah ke medsos.

“Awalnya karena kami sedang melakukan retensi ke pelanggan yang menggunakan layanan internet. Nah, saya baru tahu Cafe Ruang Setara ini salah satu pelanggan baru kami. Menariknya, mereka memberdayakan karyawan tunarungu. Jadi sekalian saya bikin kontennya, nggak nyangka juga viral,” cerita Heri yang merupakan kepala cabang salah satu provider swasta yang ada di Riau, Kamis (15/10/2026).

influencer ke cafe ruang setara.jpeg
(Banyak konten creator dan food influencers yang membuat konten menceritakan Cafe Ruang Setara/foto-sc @lemak_baik & @brosispku)

Sebagai orang yang bekerja di bidang infrastruktur digital dan telekomunikasi terintegrasi, Heri menyadari internet telah mengubah banyak hal, sekaligus membuka banyak kesempatan. Contoh nyatanya seperti kafe atau tempat usaha yang memberi kesempatan kepada kelompok disabilitas bisa lebih dikenal dan memberikan persepsi baik ke publik. Karena selama ini tak sedikit orang yang memandang sebelah mata kepada mereka yang disabilitas, dianggap berbeda dan tidak bisa bekerja seperti orang “normal”.

“Kalau saya pribadi tentu senang ya, konten yang kita buat disambut baik. Melalui konten kita bisa menunjukkan meski mereka disabilitas, tapi kita tidak perlu memandang mereka dengan tatapan iba, tetapi kita bisa saling menghargai,” katanya.

Itu pula yang diperjuangkan Bendahara Aliansi Disabilitas Nasional Provinsi Riau, Muhamad Seldy Febryansah. Baginya pemerintah dan sektor bisnis memang harus memberikan kesempatan kerja seluas-luasnya. Serta memastikan aksesibilitas pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan penyandang disabilitas jika penyandang disabilitas dianggap tidak memenuhi kebutuhan industri.

“Saya menyaksikan secara langsung potensi dan keinginan teman-teman disabilitas di Riau untuk berdaya,” kata Seldy saat dihubungi Senin (19/10/2026). “Mereka hanya meminta hak yang setara, akses ke pelatihan kerja yang inklusif, dan kesempatan kerja yang adil.”

Ia menilai sudah saatnya pendekatan terhadap penyandang disabilitas berganti dari paradigma belas kasihan atau rasa iba menuju pemberdayaan.

Dalam kondisi tertentu, bantuan sosial masih diperlukan. Namun, langkah penting untuk membuat penyandang disabilitas mampu mandiri secara finansial adalah memberikan keterampilan dan akses ke pekerjaan. Maka itu ia turut senang dengan hadirnya Cafe Ruang Setara yang memberdayakan teman disabilitas.

komdigi gerakan deal 2026.jpg
(Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid saat deklarasi gerakan DEAL di Jakarta/foto-komdigi)

Transformasi Digital yang Inklusif
Di era digital ini, tetap terhubung secara online sangatlah penting. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melihat perkembangan digitalisasi sudah mengubah tren pasar. Mengingat kebiasaan konsumen yang berubah, pelaku usaha harus tetap kreatif dan menggunakan strategi konten yang interaktif untuk menarik pembeli dengan cepat.

Tiap tahunnya, Komdigi melalui Balai Besar Pelatihan Sumber Daya Manusia (BPSDM) aktif menggelar pelatihan konten kreator dan penguatan kompetensi hingga pemasaran digital bagi pelaku UMKM.

Seperti pertengahan tahun 2026, di Kantor Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial di Jakarta, Komdigi menyelenggarakan program literasi digital untuk penyandang disabilitas tuli. Ini adalah upaya untuk memastikan bahwa seluruh masyarakat mendapatkan manfaat dari transformasi digital. Upaya ini sejalan dengan komitmen pemerintah untuk membuat ruang digital aman, inklusif, dan memberdayakan sehingga semua orang dapat memanfaatkan peluang di era digital.

Untuk menyelaraskan langkah dan mempercepat transformasi digital Indonesia, Kemkomdigi menggunakan gerakan Digital Ecosystem Alignment (DEAL) 2026 untuk menyatukan industri, akademisi, startup, investor, UMKM, komunitas, dan pemerintah daerah dalam satu ruang solidaritas.

Menteri (Komdigi) RI, Meutya Viada Hafid menyebut tujuan gerakan DEAL itu sederhana, guna memastikan bahwa teknologi benar-benar membantu masyarakat. “Karena pada akhirnya, keberhasilan transformasi digital tidak diukur dari seberapa canggih teknologinya, tetapi dari seberapa luas manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat,” sebutnya saat deklarasi DEAL di Jakarta belum lama ini.

Menteri Meutya juga pernah menyampaikan bahwa kesejahteraan akan terwujud saat kesempatan dan kemandirian juga terbuka bagi teman-teman disabilitas. Ruang digital semakin inklusif dan berkelanjutan.

Apalagi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas dan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2015 tentang Pengelolaan Komunikasi Publik menjadi landasan kuat bagi upaya kolektif pemerintah untuk menghormati, melindungi, dan memenuhi hak-hak penyandang difabel.

Ruang Solidaritas
Saya menemui Yulia, Boy, dan Cici ketika pekerjaan mereka sedikit mereda. Pengawas Lianny Rumondor yang menemani saya mengingatkan butuh sedikit kesabaran untuk berbicara dengan teman tuli. Saya memaklumi itu.

“Bagaimana ceritanya bisa bekerja di sini?” tanya saya kepada ketiganya.

Awalnya Boy bergeming, kemudian melirik Lianny yang kemudian menerjemahkan pertanyaan saya menggunakan bahasa isyarat. Boy mengangguk dan menceritakan bahwa dirinya dihubungi pihak Koperasi Melangkah Bersama Disabilitas Sejahtera, ada lowongan di Cafe Ruang Setara. Setelah itu dirinya mengikuti proses seleksi, sampai akhirnya dia diterima.

“Katanya (Boy), dia senang bisa diterima bekerja di sini,” kata Lianny kepada saya.

Senada dengan Boy, Yulia juga senang bisa bekerja sebagai barista dan bisa berinteraksi dengan orang lain. Karena selama ini dirinya hanya bergaul dan bekerja di lingkungan keluarga saja. “Alhamdulillah, senang… di sini,” ujar Yulia singkat. Jawaban itu terdengar sederhana, namun diucapkan dengan sungguh-sungguh. “Pertama… masuk… cuit (sulit). Tiga, empat… hari… hapal (cara membuat minuman, red),” sambung wanita berkacamata itu.

Pertanyaan saya beralih ke Cici, “Apa harapannya untuk kafe ini? Apa kamu nanti mau buka usaha sendiri?”

Cici menggeleng, kemudian menjawab dengan suara yang terdengar pelan dan kurang jelas. Tangannya bergerak membantu menjelaskan maksudnya.

“Dia enggak mau buka usaha sendiri, dia senang kerja di sini. Bisa punya penghasilan sendiri dan senang diajari banyak hal. Harapannya kafe ini maju dan ramai orang terus,” sebut Lianny menerjemahkan jawaban Cici.

Cafe Ruang Setara menjadi bukti, bagi mereka yang memiliki keterbatasan fisik dan rentan masih punya kesempatan untuk menjemput kemandirian. Terkadang keterbatasan sering kali menghadirkan hambatan. Namun, hambatan yang ada bukan berarti mengubur mimpi untuk terus tumbuh dan berkembang untuk meraih cita-cita.

Keinginan mereka yang serius bekerja menjadi pesan yang kuat untuk bicara soal kemanusiaan. Kafe ini sekaligus menjadi jendela untuk mengenal komunitas difabel lebih dekat. Melihat bagaimana penyandang disabilitas memiliki ruang untuk bisa setara dalam kesempatan dan berdaya. (*)



Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa/rilis atau ingin berbagi foto?
Silakan SMS ke 0813 7176 0777
via EMAIL: redaksi@halloriau.com
(mohon dilampirkan data diri Anda)


BERITA LAINNYA    
Cafe Ruang Setara memberdayakan karyawan tunarungu di Jalan Abdullah Munsyi, Kota Pekanbaru (foto/Riki)Cerita dari Ruang Setara: Perjuangan Teman Tuli untuk Berdaya
Harga TBS sawit mitra swadaya di Riau pekan ini naik.(ilustrasi/gemini AI/halloriau.com)Harga TBS Sawit Mitra Swadaya di Riau Pekan ini Naik Jadi Rp3.679
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (tengah) memberikan keterangan setelah rapat koordinasi MBG di Jakarta, Senin (19/10/2026). ANTARA/Shofi Ayudiana/pri.MBG Prasmanan Diuji Coba di 66 SPPG di 10 Provinsi
Presiden Prabowo Subianto (tengah) melihat hasil inovasi BRIN dalam pembuatan genteng dengan material ramah lingkungan saat acara pameran hasil inovasi BRIN di halaman tengah Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Kamis (6/8/2026). ANTARA/HO-BPMI Sekretariat Presiden.Modal Baru Riset Indonesia Menuju Hilirisasi
ist.UIR dan PT APGWI Jalin Kerja Sama, Dua Mahasiswa Teknik Terima Beasiswa Penuh
  Harga TBS sawit mitra plasma di Riau pekan ini turun.(ilustrasi/gemini AI/halloriau.com)Harga Sawit Mitra Plasma Riau Turun Pekan Ini Jadi Rp3.745 per Kg
Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Jakarta, Senin (5/10/2026). ANTARA/HO-Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.Pemerintah Gulirkan Sejumlah Stimulus Skonomi untuk Kuartal IV 2026
Pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digelar Dinas Kesehatan Rejang Lebong di Pemkab Rejang Lebong pada 18 Agustus 2026. ANTARA/Nur MuhamadDari Cek Kesehatan Gratis ke cegah sakit
Enam calon penghulu di Rohil ikuti tes ulang Al-Qur’an.(foto: afrizal/halloriau.com)Enam Bakal Calon Penghulu di Rohil Dapat Kesempatan Kedua Usai Gagal Tes Mengaji
Ketelitian petugas Lapas Bagansiapiapi gagalkan barang mencurigakan masuk blok hunian.(foto: afrizal/halloriau.com)Modus Botol Sampo, Pengunjung Lapas Bagansiapiapi Diduga Bawa Liquid Vape Narkoba
Komentar Anda :

 
 
 
Potret Lensa
Pengumuman dan Penyerahan Penghargaan LKJ Raja Ali Kelana 2026
 
 
Eksekutif : Pemprov Riau Pekanbaru Dumai Inhu Kuansing Inhil Kampar Pelalawan Rohul Bengkalis Siak Rohil Meranti
Legislatif : DPRD Pekanbaru DPRD Dumai DPRD Inhu DPRD Kuansing DPRD Inhil DPRD Kampar DPRD Pelalawan DPRD Rohul
DPRD Bengkalis DPRD Siak DPRD Rohil DPRD Meranti
     
Management : Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik Wartawan | Visi dan Misi
    © 2010-2026 PT. METRO MEDIA CEMERLANG (MMC), All Rights Reserved