PEKANBARU - Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru mengingatkan masyarakat agar tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Langkah pencegahan ini terus diperkuat untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di kawasan yang memiliki karakteristik tanah gambut.
Pemerintah menilai pembakaran lahan berpotensi menimbulkan kebakaran yang sulit dikendalikan. Terlebih, api di kawasan gambut dapat menjalar hingga ke bawah permukaan tanah sehingga membutuhkan sumber daya lebih besar dan waktu penanganan lebih lama.
Sekretaris Daerah Kota (Sekdako) Pekanbaru, Zulhelmi Arifin, mengatakan sosialisasi pencegahan karhutla terus dilakukan melalui organisasi perangkat daerah (OPD) teknis, camat, dan lurah. Pemerintah juga berkoordinasi dengan TNI dan Polri untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.
Menurutnya, edukasi tidak hanya menyasar kebiasaan membuka lahan dengan membakar, tetapi juga aktivitas membakar sampah yang kerap dianggap sepele, padahal dapat memicu kebakaran lebih luas.
"Kita selalu menginformasikan agar masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan, terutama lahan gambut," ujar Zulhelmi, Rabu (4/11/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Zulhelmi setelah mengikuti pemasangan plang peringatan karhutla secara simbolis di atas lahan bekas terbakar di Jalan Arjuna, Kelurahan Labuh Baru Timur, Kecamatan Payung Sekaki, Pekanbaru.
Pria yang akrab disapa Ami itu menjelaskan, keberadaan lahan gambut di sejumlah kawasan Pekanbaru menjadi salah satu perhatian serius pemerintah dalam mengantisipasi karhutla.
Karakteristik gambut memungkinkan api menjalar dan bertahan di bawah permukaan tanah. Kondisi ini membuat proses pemadaman tidak cukup hanya dengan mengatasi kobaran api yang terlihat di permukaan.
Zulhelmi mencontohkan kebakaran lahan di Jalan Pemuda yang membutuhkan waktu hingga tiga hari untuk penanganan. Padahal, luas area yang terbakar diperkirakan hanya sekitar 2.000 meter persegi.
"Jadi kalau lahan gambut ini terbakar, itu tidak cukup satu hari melakukan pemadaman. Itu butuh banyak sumber daya untuk memadamkan dan mendinginkan," ungkapnya.
Pengalaman tersebut, lanjutnya, menunjukkan bahwa kebakaran di kawasan gambut tidak bisa dianggap sebagai persoalan ringan. Api yang terlihat sudah padam belum tentu benar-benar hilang karena masih berpotensi bertahan di dalam lapisan tanah.
Oleh sebab itu, proses pendinginan dan pemantauan harus dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan tidak ada titik api yang kembali muncul.
Pemko Pekanbaru pun mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan dalam berbagai aktivitas sehari-hari, terutama ketika membersihkan pekarangan, mengelola kebun, maupun menangani sampah rumah tangga.
Zulhelmi secara khusus meminta warga tidak membakar sampah sembarangan. Sebab, percikan api yang tidak terkendali dapat menyambar vegetasi kering maupun kawasan lahan di sekitarnya dan berkembang menjadi kebakaran.
"Kadang hal-hal yang tidak disengaja seperti membakar sampah, itu bisa mengakibatkan terjadinya kebakaran lahan. Maka kita imbau juga agar masyarakat tidak membakar sampah," tegasnya.
Pemko Pekanbaru berharap keterlibatan masyarakat dapat menjadi faktor penting dalam menekan risiko karhutla. Upaya pencegahan dinilai jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah api membesar, khususnya di kawasan gambut yang membutuhkan tenaga, peralatan, dan waktu lebih banyak untuk pemadaman.
Melalui sosialisasi dan pemasangan plang peringatan, pemerintah mengajak seluruh lapisan masyarakat ikut menjaga lingkungan serta segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran di sekitar tempat tinggal.
Langkah tersebut diharapkan dapat mencegah terjadinya kebakaran berulang sekaligus mengurangi ancaman kabut asap yang berpotensi mengganggu kesehatan dan aktivitas masyarakat. (*)