PELALAWAN - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian serius di Kabupaten Pelalawan.
Sebanyak 10 hektare lahan terbakar di kawasan Kerumutan, wilayah yang dikenal sebagai salah satu habitat penting Harimau Sumatera, Rabu (19/8/2026).
Kebakaran tersebut terjadi ketika aktivitas titik panas di Provinsi Riau justru mengalami peningkatan.
Data BMKG Stasiun Pekanbaru, Rabu sore menunjukkan terdapat 60 titik panas di Riau, dan Pelalawan menjadi wilayah dengan konsentrasi titik panas tertinggi dengan 47 titik panas.
"Angka tersebut mendominasi dan menyumbang hampir separuh dari total keseluruhan titik panas yang terdeteksi di Provinsi Riau," kata Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Indah.
Ancaman karhutla tidak hanya berkaitan dengan luas lahan yang terbakar. Lokasi kebakaran di Kerumutan menjadi perhatian karena berada di kawasan yang merupakan ruang jelajah satwa liar, termasuk Harimau Sumatera yang statusnya dilindungi.
Kebakaran di lahan gambut tersebut juga menghasilkan asap pekat di sekitar lokasi.
Karakteristik gambut membuat proses pemadaman jauh lebih kompleks karena api dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali muncul setelah api di permukaan berhasil dikendalikan.
Kapolres Pelalawan, AKBP John Louis Letedara turun langsung memimpin operasi pemadaman. Posko komando didirikan di sekitar area kebakaran untuk mempercepat koordinasi sekaligus mempermudah komunikasi antarpersonel.
Sebanyak 42 personel Polres Pelalawan bersama jajaran polsek diterjunkan dalam operasi tersebut. Mereka mendapat dukungan dari TNI, masyarakat dan pihak perusahaan.
"Sebagai langkah upaya pemadaman, kami menerjunkan 42 personel Polres Pelalawan beserta jajaran polsek yang dibantu oleh prajurit TNI, masyarakat, dan pihak perusahaan," ujar John.
Pemadaman berlangsung dalam kondisi yang tidak mudah. Cuaca panas dan angin kencang berpotensi mempercepat penyebaran api, sementara sumber air di sekitar lokasi sangat terbatas.
Jarak menuju titik kebakaran juga menjadi persoalan karena lokasi berada sekitar 25 kilometer dari sumber akses operasional.
"Beberapa kendala kita di lapangan seperti cuaca panas, angin kencang, dan sumber air minim sekali dengan jarak tempuh ke lokasi sekitar 25 kilometer," ucap John.
Untuk mempercepat penanganan, tim gabungan mengoperasikan lima unit ekskavator untuk membuat jalur pemutus api. Dukungan pemadaman dari udara juga dilakukan menggunakan helikopter water bombing.
Kombinasi pemadaman darat dan udara berhasil mengendalikan api di permukaan. Namun, personel masih melakukan pendinginan untuk memastikan tidak ada bara yang tertinggal di lapisan gambut.
Di tengah peningkatan titik panas, BMKG menyebut hujan mulai terjadi di sejumlah wilayah Riau. Hujan berpotensi membantu membasahi lahan yang kering, tetapi belum cukup untuk menghilangkan risiko kebakaran secara keseluruhan.