PEKANBARU - Pemprov Riau hingga kini belum menetapkan status siaga darurat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), meski kebakaran telah terjadi di enam kabupaten dan kota. Penetapan status tersebut masih menunggu terpenuhinya syarat administratif, yakni minimal tiga daerah menetapkan status siaga Karhutla lebih dahulu.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Riau, M Edy Afrizal, mengatakan kondisi Karhutla saat ini masih dapat ditangani oleh pemerintah kabupaten dan kota masing-masing. Meski begitu, BPBD Riau terus mendorong daerah-daerah yang rawan kebakaran agar segera mempertimbangkan penetapan status siaga apabila kebakaran berpotensi meluas.
“Kita sudah mendorong kabupaten dan kota yang berpotensi bencana Karhutla agar segera mempertimbangkan membuat status siaga. Saat ini kita masih berstatus bencana hidrometeorologi hingga akhir bulan ini,” ujar Edy Afrizal, Kamis (29/1/2026).
Edy menjelaskan, BPBD Riau juga terus berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memantau serta memprediksi kondisi cuaca, khususnya terkait peralihan musim dan potensi masuknya musim panas di wilayah Riau.
Menurutnya, sejak awal Januari kondisi cuaca di Riau cenderung berubah-ubah. Setelah mengalami cuaca panas, hujan kembali turun di sejumlah wilayah.
“Beberapa hari ini kan ada panas, lalu sekarang hujan lagi. Di Riau ini ada dua kali musim panas, sekarang ini masih warming up dulu, nanti hujan di pertengahan tahun dan setelah itu panas lagi,” jelasnya.
Terkait status siaga bencana hidrometeorologi, Edy menyebutkan status tersebut akan berakhir pada 31 Januari 2026 dan secara otomatis tidak diperpanjang.
“Status hidrometeorologi ini akan berakhir otomatis. Saat ini kita menunggu apakah ada daerah yang menetapkan status siaga Karhutla, mengingat kebakaran sudah terjadi di enam daerah,” ungkapnya.
Sebelumnya, Pelaksana Tugas Gubernur Riau, SF Hariyanto, menyampaikan pihaknya telah berkoordinasi dengan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Riau untuk mengantisipasi potensi Karhutla. Upaya pencegahan, kata dia, menjadi langkah utama yang terus diperkuat.
“Untuk antisipasi Karhutla, kami sudah membahas bersama Forkopimda Riau dan langsung melakukan upaya-upaya pencegahan. Kami juga mengimbau masyarakat agar menjaga lingkungan dan tidak membuka lahan dengan cara membakar,” ujar SF Hariyanto dikutip dari MCRiau.
Sementara itu, berdasarkan data BMKG, terpantau sebanyak 45 titik panas atau hotspot di wilayah Riau. Hotspot tersebut tersebar di Kabupaten Bengkalis sebanyak 12 titik, Kota Dumai 4 titik, Kabupaten Pelalawan 3 titik, Rokan Hilir 1 titik, Rokan Hulu 1 titik, Kabupaten Siak 1 titik, serta terbanyak di Kabupaten Indragiri Hilir dengan 23 titik.