www.halloriau.com


BREAKING NEWS :
Pemprov Riau Matangkan Data, Bantuan Sapi Presiden 2026 Ditarget Tepat Sasaran
Otonomi
Pekanbaru | Dumai | Inhu | Kuansing | Inhil | Kampar | Pelalawan | Rohul | Bengkalis | Siak | Rohil | Meranti
 


Menjaga Derap Harapan Masa Depan Gajah Sumatra dari Ukui
Selasa, 07 April 2026 - 22:11:14 WIB
Mahout bersama gajah sedang berkeliling di hamparan hijau hutan sekitar UKG Estate Ukui, Kabupaten Pelalawan (foto/riki)
Mahout bersama gajah sedang berkeliling di hamparan hijau hutan sekitar UKG Estate Ukui, Kabupaten Pelalawan (foto/riki)

PELALAWAN - Kabut pagi belum sepenuhnya terangkat dari hamparan hijau Estate Ukui, Kabupaten Pelalawan. Udara masih basah oleh embun ketika dari kejauhan terdengar bunyi berat yang berirama.

Duk… duk… duk…

Langkah itu milik seekor gajah kecil yang sedang berlari-lari di rumput lembap. Di belakangnya, seorang pria berusia 54 tahun berjalan santai sambil memanggil.

“April! Duduk… duduk!”

Seruan itu membuat telinga lebar si gajah kecil berdiri tegak. Tubuhnya berhenti sejenak, lalu perlahan menurunkan bagian belakangnya ke rumput, seperti murid yang patuh pada gurunya.
Porada Harahap tersenyum.

Tangannya terulur ke depan, menyodorkan sepotong gula merah.

April segera mengulurkan belalai, mengambil hadiah kecil itu dengan hati-hati. Telinganya yang bergerak-gerak seakan menunjukkan kegirangannya.

Pria paruh baya itu menepuk pelan kepala April.

“Masih belajar dia,” kata Porada sambil tersenyum.

Bagi Porada Harahap, menjadi mahout bukan sekadar pekerjaan. Ia menghabiskan hampir setiap hari bersama Carmen dan April.

“Tidak semua mahout bisa cocok dengan semua gajah,” katanya.

Namun ia merasa memiliki ikatan khusus dengan Carmen. Sudah dianggap seperti keluarga sendiri.

Ketika Carmen melahirkan April, Porada merasakan kebahagiaan yang sulit dijelaskan.

“Rasanya seperti keluarga sendiri yang bertambah,” ujarnya.

Setiap pagi ia memberi makan, memandikan, dan berjalan bersama mereka. Hubungan itu tumbuh dari interaksi yang berulang, hari demi hari, tahun demi tahun.

Kepercayaan yang tidak pernah ditulis, tetapi terasa kuat.

April bukan gajah biasa bagi para penjaga di UKG. Ia lahir pada Kamis pagi, 6 April 2023. Seekor anak gajah jantan yang kini berusia sekitar tiga tahun. Induknya bernama Carmen, gajah betina berusia 14 tahun yang juga lahir di tempat yang sama pada 5 Januari 2009 dari induk bernama Meri.

Bagi para mahout, kelahiran April adalah momen yang sulit dilupakan.

Di tengah kabar tentang konflik manusia dan gajah, perburuan liar, serta menyusutnya hutan Sumatera, kelahiran seekor anak gajah terasa seperti secercah cahaya.

Satu kelahiran berarti satu peluang baru bagi masa depan spesies yang kian terancam.

Bagi orang lain, pemandangan itu mungkin terlihat seperti latihan biasa antara pawang dan satwa. Namun bagi Porada, hubungan itu jauh lebih dalam.

Ada kepercayaan yang tumbuh dari waktu, kesabaran, dan kebersamaan yang tidak sebentar.

Di tempat inilah, Unit Konservasi Gajah (UKG) Estate Ukui milik PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), harapan bagi gajah Sumatera dijaga setiap hari.

Dari Empat Menjadi Tujuh
Cerita konservasi di tempat ini dimulai lebih dari tiga dekade lalu. Asisten Lingkungan UKG Estate Ukui, Joko Prasetyo, mengingat betul awal perjalanan itu.

“Awalnya cuma empat ekor,” kata Joko. Tahun 1994 empat gajah terlatih didatangkan dari pusat pelatihan gajah pemerintah (PLG Sebanga). Keempat gajah yang diterima yaitu Adei, Ika, Mira, dan Meri.

Sejak 2001, gajah dipindahkan ke lokasi yang lebih dekat dengan sumber air dan pakan yaitu di Langgam Estate, dan kemudian dikenal sebagai Unit Konservasi Gajah (UKG) Estate Ukui.

Perjalanan waktu menambah jumlah mereka.

“Sekarang sudah tujuh ekor,” ujar Joko.

Carmen lahir pada 2009, Raja Arman pada 2011, dan yang terbaru adalah April pada 2023.

Ia tersenyum kecil ketika menyebut nama gajah kecil itu.
“Kalau ada anak gajah lahir, rasanya beda,” katanya. “Kayak ada harapan baru.”

Rutinitas yang Menyelamatkan
Harapan itu dijaga melalui rutinitas panjang yang dimulai sejak pagi.

Setiap hari gajah-gajah dimandikan di area terbuka. Air disiramkan ke tubuh besar mereka, mengalir di sela-sela lipatan kulit yang tebal.

Kadang gajah ikut bermain air, menyemprotkan air kembali dengan belalainya.

Setelah itu mereka diberi makan dalam jumlah besar, sekitar 20 persen dari bobot tubuhnya setiap hari.
 Selain itu juga di area sekitar gajah itu juga banyak tersedia berbagai jenis tumbuhan dan pakis yang disukai gajah tersebut.

Namun kegiatan mereka tidak berhenti di situ. Asisten Kepala Forest Protection, Angga Devila, menjelaskan bahwa setiap gajah juga menjalani latihan rutin.

“Kegiatan di sini mulai dari mengangon atau berjalan, memandikan, pemberian puding nutrisi tambahan, sampai pelatihan dasar,” kata Angga.

Latihan ini penting agar gajah tetap responsif ketika dibutuhkan untuk patroli hutan atau membantu menggiring kawanan gajah liar yang mendekati permukiman.

Di sela-sela rutinitas itu, kesehatan mereka juga dipantau ketat. Vitamin diberikan jika nafsu makan menurun, sementara obat cacing diberikan setiap tiga bulan.

Bahkan kotoran gajah pun tidak terbuang sia-sia. Limbah itu dikumpulkan dan diolah menjadi pupuk.

Rutinitas sederhana yang terlihat sepele itu sesungguhnya menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan hidup mereka.

Perang Melawan Jerat
Tugas tim konservasi tidak hanya merawat gajah di dalam kawasan. Mereka juga rutin masuk ke hutan untuk patroli dan operasi sapu jerat.

“Kami biasanya dua kali sebulan melakukan sapu jerat,” kata Angga.

Jerat kawat sering dipasang pemburu untuk menangkap babi hutan. Namun perangkap itu bisa menjadi ancaman serius bagi gajah.

Jika kaki gajah terjerat, luka yang ditimbulkan bisa sangat parah, bahkan berujung kematian.

“Jangan sampai gajah yang kena jerat,” kata Angga sambil menggeleng pelan.

Selain patroli, tim juga aktif memberikan edukasi kepada masyarakat sekitar. Anak-anak sekolah kerap datang berkunjung untuk melihat langsung gajah Sumatera.

Harapannya sederhana, jika generasi muda mengenal gajah sejak kecil, mereka akan tumbuh dengan kesadaran untuk menjaganya.

Harapan yang Terus Berjalan
Upaya konservasi di UKG Estate Ukui mungkin terlihat kecil jika dibandingkan dengan luasnya hutan Sumatera. Namun titik kecil itu menyimpan arti besar.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Supartono, mengatakan pihaknya terus memperkuat perlindungan gajah melalui pengelolaan koridor habitat.

Koridor-koridor itu akan dihubungkan agar ruang jelajah gajah tetap terbuka dan tidak terfragmentasi oleh aktivitas manusia.

Patroli terpadu juga akan terus diperkuat bersama berbagai pihak, seperti dengan pihak perusahaan PT RAPP di sekitar habitat gajah.

Kolaborasi menjadi kunci agar konflik antara manusia dan gajah bisa ditekan. Menjaga tujuh ekor gajah mungkin terdengar kecil dibanding luasnya rimba Sumatera.

Namun dari tujuh itu, lahirlah April. Seekor anak gajah yang suatu hari akan tumbuh besar dan melangkah lebih jauh ke dalam hutan.

Dan setiap pagi, ketika derap langkah gajah kembali memecah sunyi di Estate Ukui, harapan itu ikut berjalan bersama mereka, pelan, berat, tetapi pasti, menjaga rimba agar tetap menjadi rumah bagi gajah Sumatera. (*)

Penulis: Riki Ariyanto


Jika Anda punya informasi kejadian/peristiwa/rilis atau ingin berbagi foto?
Silakan SMS ke 0813 7176 0777
via EMAIL: redaksi@halloriau.com
(mohon dilampirkan data diri Anda)


BERITA LAINNYA    
Pemprov Riau perkuat koordinasi, penyaluran sapi bantuan Presiden 2026 (foto/int)Pemprov Riau Matangkan Data, Bantuan Sapi Presiden 2026 Ditarget Tepat Sasaran
TAF reses di Jalan Kusuma, Komplek Peputra Indah I, RW 02, Kelurahan Simpang Tiga, Kecamatan Bukit Raya (foto/mimi)Soal Kabel Semrawut Jadi Atensi Masyarakat Saat Reses TAF di Kelurahan Simpang Tiga
Anggota DPRD Pekanbaru, Zulkardi apresiasi polisi usai tangkap jambret santunan anak yatim (foto/ist)DPRD Pekanbaru Apresiasi Polisi Usai Tangkap Jambret Santunan Anak Yatim
Kepala Dinas Pendidikan Riau, Erisman Yahya (foto/dok-halloriau)Sekolah di Riau Wajib Hemat Energi, AC Diatur hingga Kinerja ASN Dirombak
Kolaborasi strategis wujudkan konetivitas, BTS Sitinjau Lauik, Sumbar kini beroperasi (foto/ist)Kolaborasi Strategis Wujudkan Konetivitas, BTS Sitinjau Lauik Kini Beroperasi
  Mahout bersama gajah sedang berkeliling di hamparan hijau hutan sekitar UKG Estate Ukui, Kabupaten Pelalawan (foto/riki)Menjaga Derap Harapan Masa Depan Gajah Sumatra dari Ukui
Pemprov Riau dan Kementerian LH Teken MoU pengolahan sampah jadi energi listrik (foto/ist)Kolaborasi Besar Pemprov Riau dan Kementerian LH Bangun Pembangkit Listrik dari Sampah
Disaksikan Menteri LH Hanif Faisol, Bupati Siak teken MoU PSEL mengubah sampah menjadi listrik (foto/ist)Proyek Waste to Energy, Bupati Siak Teken MoU PSEL Sulap Sampah Jadi Listrik
Ilustrasi Riau masih dominasi hotspot di Sumatera (foto/int)Bengkalis Masih Terbanyak, 98 Hotspot Terdeteksi di Riau
Ilustrasi angka HIV/AIDS tinggi di Pekanbaru (foto/int)Pekanbaru Tertinggi Kasus AIDS di Riau, Tembus 2.746 Kasus
Komentar Anda :

 
 
 
Potret Lensa
Buka Puasa Bersama Agung Toyota Riau
 
 
Eksekutif : Pemprov Riau Pekanbaru Dumai Inhu Kuansing Inhil Kampar Pelalawan Rohul Bengkalis Siak Rohil Meranti
Legislatif : DPRD Pekanbaru DPRD Dumai DPRD Inhu DPRD Kuansing DPRD Inhil DPRD Kampar DPRD Pelalawan DPRD Rohul
DPRD Bengkalis DPRD Siak DPRD Rohil DPRD Meranti
     
Management : Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik Wartawan | Visi dan Misi
    © 2010-2026 PT. METRO MEDIA CEMERLANG (MMC), All Rights Reserved