BAGANSIAPIAPI - Semangat kebersamaan mewarnai hari ke-10 Ramadan di Bagansiapiapi. Ratusan jamaah memadati Rumah Suluk Syekh Oesman Sahabuddin, Kelurahan Bagan Timur, Kecamatan Bangko, Sabtu (28/2/2026), untuk mengikuti buka puasa bersama yang telah menjadi tradisi tahunan.
Kegiatan ini bukan sekadar agenda berbuka, melainkan bagian dari penguatan ukhuwah Islamiyah di tengah rangkaian persulukan 40 hari yang sedang berlangsung sejak 9 Februari dan akan berakhir pasca-Idul Fitri.
Sejak menjelang magrib, jamaah berdatangan dengan penuh antusias. Mereka disambut hangat oleh tuan guru rumah suluk, Syekh Oesman Sahabuddin, serta pengurus suluk.
Suasana religius terasa ketika jamaah saling bersalaman, mempererat silaturahmi dalam nuansa Ramadan yang khusyuk.
Di halaman rumah suluk, kursi-kursi plastik tersusun rapi. Meja-meja dipenuhi aneka takjil dan hidangan yang sebagian dibawa langsung oleh jamaah sebagai bentuk partisipasi bersama.
Begitu azan magrib berkumandang, seluruh jamaah membatalkan puasa serentak.
Shalat magrib berjamaah kemudian dilaksanakan dengan khusyuk, dipimpin oleh ustaz Rio Yuhardi.
Lantunan ayat suci Al-Qur’an yang menggema menambah kekhidmatan ibadah sore itu.
Mursyid Rumah Suluk, Chalifah Idris, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Alhamdulillah, kegiatan ini rutin kita laksanakan setiap tahun. Harapan kami, silaturahmi antarjamaah semakin kuat dan keimanan kita semakin meningkat di bulan yang penuh berkah ini,” ujar Chalifah Idris.
Ia menegaskan, buka puasa bersama bukan hanya agenda seremonial, tetapi menjadi ruang konsolidasi spiritual bagi jamaah yang tengah menjalani suluk.
“Saat ini kita juga sedang melaksanakan persulukan 40 hari. Mudah-mudahan seluruh rangkaian ibadah ini mendapat ridho dan rahmat Allah,” tambahnya.
Persulukan yang digelar di rumah suluk tersebut menjadi magnet tersendiri bagi jamaah dari berbagai daerah di Kabupaten Rokan Hilir.
Selain memperdalam dzikir dan pembinaan rohani, kegiatan ini memperkuat tradisi keagamaan yang telah lama tumbuh di tengah masyarakat pesisir Riau.
Momentum Ramadan pun dimaknai bukan hanya sebagai bulan ibadah individual, melainkan juga ruang mempererat kebersamaan umat.