ROHUL - Luapan Sungai Rokan dan Sungai Hitam memutus akses vital di Dusun I Desa Sontang, Kecamatan Bonai Darussalam, Kabupaten Rohul dengan wilayah Duri, Kabupaten Bengkalis, akibat terendam banjir dengan ketinggian mencapai 1 meter.
Akibat kondisi tersebut, kendaraan roda empat kecil dan minibus dilarang melintas, sementara sepeda motor terpaksa mengandalkan jasa penyeberangan air yang disediakan warga setempat menggunakan pompong.
Untuk sekali menyeberang sepanjang kurang lebih 1 kilometer, pengendara roda dua dikenakan biaya sekitar Rp50 ribu.
Meski cukup memberatkan, jasa ini menjadi satu-satunya solusi agar aktivitas masyarakat tetap berjalan.
Sekretaris Camat Bonai Darussalam, Suratman mengatakan, hingga Senin (5/1/2026), terdapat sedikitnya empat titik jalan terparah yang belum bisa dilewati kendaraan pribadi.
“Banjir masih bertahan di Dusun I Desa Sontang. Kendaraan roda dua maupun roda empat belum bisa melintas di beberapa titik akibat luapan Sungai Rokan,” ujar Suratman.
Ia menegaskan, hingga kini belum tersedia jalur alternatif bagi kendaraan roda empat untuk menghindari genangan banjir di ruas jalan provinsi tersebut.
“Kami mengapresiasi inisiatif masyarakat yang secara swadaya membantu pengendara roda dua menyeberang menggunakan pompong, baik dari arah Sontang ke Duri maupun sebaliknya,” tuturnya.
Menurut Suratman, tarif penyeberangan tidak ditentukan secara resmi, melainkan berdasarkan kesepakatan antara pengendara dan warga penyedia jasa.
“Informasi yang kami terima, kisaran biayanya Rp50 ribu sekali melintas,” jelasnya.
Meski akses jalan terputus, hingga saat ini belum ada laporan rumah warga yang terendam banjir. Namun, sejumlah fasilitas umum mulai terdampak.
“Surau Suluk sudah mulai dimasuki air setinggi mata kaki orang dewasa,” ungkapnya.
Suratman menyebut, banjir di wilayah tersebut dikenal lambat surut. Kondisinya sangat bergantung pada cuaca dan curah hujan di wilayah hulu Sungai Rokan.
“Jika hujan masih terjadi di Rokan IV Koto, Ujung Batu, dan Kunto Darussalam, maka aliran air tetap mengarah ke Bonai Darussalam,” jelasnya.
Di sisi lain, pengelola PLTA Koto Panjang masih membuka dua pintu pelimpahan air (spillway gate) masing-masing setinggi 50 sentimeter.
Manajer PLTA Koto Panjang, Dhani Irwansyah mengatakan, kebijakan tersebut diambil karena elevasi waduk masih berada di level aman.
“Pada Senin pukul 19.00 WIB, elevasi waduk tercatat 80,60 meter di atas permukaan laut,” kata Dhani.
Ia merinci, debit air keluar melalui turbin mencapai 234,26 meter kubik per detik, sementara debit spillway sebesar 140,66 meter kubik per detik.