SIAK - Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Telaga Sam-sam, Kecamatan Kandis, Kabupaten Siak, belum diizinkan kembali beroperasi setelah insiden keracunan makanan yang menimpa puluhan siswa penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Koordinator Wilayah BGN Siak, Lisa Wahari menyatakan, hingga kini izin operasional dapur MBG tersebut belum diterbitkan kembali karena masih dalam proses evaluasi dan pemeriksaan menyeluruh oleh Diskes Siak.
“Sanksinya jelas, dapur ditutup sementara sampai benar-benar memenuhi standar dan mendapatkan izin resmi dari Dinas Kesehatan,” tegas Lisa, Minggu (25/1/2026).
BGN Bantah Isu Dapur MBG Akan Dibuka Kembali
Lisa juga meluruskan kabar yang beredar di masyarakat terkait rencana pembukaan kembali SPPG Telaga Sam-sam pada Senin (26/1/2026). Menurutnya, informasi tersebut tidak benar dan tidak berdasar.
“Belum ada rencana buka. Sampai hari ini belum ada surat yang menyatakan mereka boleh beroperasi. Jadi bisa dipastikan informasi itu tidak benar,” ujarnya.
Ia menambahkan, BGN tidak menetapkan batas waktu penutupan, namun seluruh persyaratan wajib harus dipenuhi, terutama izin operasional dari Dinkes setelah dapur dinyatakan aman dan sesuai standar higiene sanitasi.
Kondisi Korban Terkendali, Dinkes Masih Uji Sampel Makanan
Terkait kondisi korban, Lisa memastikan situasi telah terkendali. Berdasarkan laporan yang diterima BGN, 21 siswa sempat mendapatkan tindakan infus, sementara siswa lainnya hanya memerlukan pengobatan ringan.
“Alhamdulillah kondisi sudah aman. Mitra dan yayasan bertanggung jawab penuh dalam penanganan, termasuk memberikan layanan medis dan obat-obatan terbaik,” jelasnya.
Hingga kini, Dinas Kesehatan Kabupaten Siak masih melakukan pengambilan dan pemeriksaan sampel makanan untuk memastikan sumber pasti keracunan.
Meskipun sebelumnya dapur MBG tersebut telah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), pemeriksaan ulang tetap dilakukan karena adanya kejadian luar biasa.
“Ini berbeda karena sudah ada kejadian keracunan, maka pemeriksaan dilakukan ulang secara menyeluruh,” kata Lisa.
Kronologi: Bumbu Tidak Layak Tetap Digunakan Saat Masak Siang
Lisa memaparkan kronologi kejadian yang bermula dari laporan SMKN 1 Kandis pada Selasa (13/1/2026) sekitar pukul 09.20 WIB.
Pihak sekolah melaporkan sejumlah siswa mengalami diare setelah mengonsumsi menu MBG.
Tim SPPG langsung turun ke lokasi. Sebagian siswa dibawa ke klinik terdekat, sementara lainnya ditangani di sekolah dengan bantuan tenaga medis.
Sebelumnya, pada Minggu (11/1/2026), SPPG menerima bahan baku untuk distribusi MBG hari Senin.
Saat proses memasak pagi (12/1/2026), ahli gizi menemukan bumbu pelengkap dalam kondisi kurang baik dan telah menginstruksikan agar tidak digunakan.
Distribusi pagi berjalan normal ke sejumlah sekolah dan posyandu. Namun, pada proses masak untuk distribusi siang, bumbu yang sebelumnya dinyatakan tidak layak justru tetap digunakan tim masak, dengan alasan dicampur baking powder agar santan tidak terasa asam.
Menu tersebut kemudian didistribusikan ke beberapa sekolah, termasuk SMKN 1 Kandis, yang keesokan harinya melaporkan kasus diare massal.
Dari penelusuran tim, diketahui salah satu siswa yang mengalami diare bahkan sedang berpuasa dan tidak mengonsumsi MBG pada hari kejadian, melainkan terakhir mengonsumsi menu pada hari sebelumnya.
115 Anak Terdampak, Pengawasan MBG Diperketat
Data sementara menyebutkan, dari 173 penerima manfaat, sebanyak 115 anak terdampak, 20 anak dirawat intensif, dan tiga anak menjalani rawat inap hingga tiga hari di klinik sekitar Kecamatan Kandis.
Dapur MBG Telaga Sam-sam diketahui dikelola oleh Roliyah alias Lala. Hingga berita ini diturunkan, proses pemeriksaan masih berlangsung dan dapur MBG tersebut tetap belum diizinkan beroperasi.