SIAK - Bupati Siak Afni Zulkifli menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden ambruknya objek wisata bersejarah Tangsi Belanda yang berada di Kecamatan Mempura, Kabupaten Siak, Sabtu (31/1/2026).
Peristiwa tersebut terjadi saat sejumlah pelajar tengah melakukan kunjungan belajar ke cagar budaya peninggalan kolonial itu.
“Saya sangat prihatin dengan kondisi anak-anak kita yang sedang kunjungan belajar ke Cagar Budaya Tangsi Belanda Kabupaten Siak. Diharapkan ini menjadi evaluasi kita bersama, jangan sampai hal serupa menimbulkan kurangnya semangat anak-anak untuk mengenal sejarah,” ujar Afni.
Begitu menerima kabar kejadian, Afni langsung bergerak menemui para korban yang dilarikan ke Rumah Sakit Tengku Rafian, Siak, sekaligus meninjau langsung lokasi ambruknya bangunan bersejarah tersebut.
“Saya langsung melihat anak-anak di Rumah Sakit Tengku Rafian. Didapati 10 siswa dilakukan perawatan, enam siswa sudah dipulangkan dan satu siswa harus dirujuk lanjutan ke rumah sakit di Pekanbaru,” katanya.
Sebagai langkah antisipasi, Pemerintah Kabupaten Siak memutuskan menutup sementara seluruh objek wisata cagar budaya dan museum yang memiliki bangunan dua lantai. Kebijakan ini diambil mengingat usia bangunan yang rata-rata telah mencapai ratusan tahun.
“Untuk sementara seluruh lokasi wisata cagar budaya dan museum yang memiliki lantai dua kita tutup, karena usianya juga sudah 1 hingga 2 abad,” jelas Afni.
Lebih lanjut, Afni menyebutkan pihaknya telah berkoordinasi dengan Anggota DPR RI Karmila Sari untuk menindaklanjuti kejadian tersebut ke tingkat pusat. Aspirasi itu kemudian diteruskan ke Kementerian Kebudayaan RI agar mendapat perhatian serius.
“Beliau juga langsung mengirimkan kepada Menteri Kebudayaan bapak Fadli Zon agar memberi atensi dan melihat langsung kondisi cagar budaya dan Museum Nasional Asserayah El Hasyimiah serta Balai Kerapatan yang memerlukan perhatian dari kita semua,” ungkap Afni.
Menurut Afni, bangunan-bangunan bersejarah di Kabupaten Siak merupakan peninggalan kerajaan dan warisan budaya nasional yang tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah semata. Ia pun berharap pemerintah pusat turun langsung untuk memastikan upaya pelestarian dan keselamatan pengunjung.
“Ini tentu menjadi tanggung jawab kita bersama. Kami sangat bermohon perhatian Pemerintah Pusat, karena ini adalah peninggalan kerajaan, peninggalan sejarah dan kebudayaan,” pungkasnya dikutip MCRiau.