PEKANBARU – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Bengkalis memasuki fase operasi intensif.
Tim gabungan lintas instansi dikerahkan penuh untuk mengendalikan api yang meluas di wilayah Desa Teluk Lancar, Kecamatan Bantan.
Hasil pemantauan lapangan menunjukkan luas area terbakar mencapai sekitar 70 hektare. Kondisi lahan gambut yang kering dan memiliki kedalaman cukup dalam menjadi tantangan utama karena api membara hingga lapisan bawah tanah.
Koordinator lapangan operasi, Kolonel Inf Rendra Dwi Ardhani menegaskan, seluruh unsur bergerak dalam satu komando.
“Kami memastikan seluruh personel bekerja terkoordinasi agar titik api bisa segera dikendalikan,” ujarnya di lokasi.
Operasi ini melibatkan jajaran TNI, Polri, BNPB, BPBD, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, relawan, hingga warga setempat.
Pendekatan terpadu tersebut dinilai menjadi kunci dalam mempercepat penanganan kebakaran yang terus berkembang akibat kondisi lingkungan ekstrem.
Wakil Koordinator Lapangan, Kombes Pol I Ketut Gede Adi Wibawa, menekankan pentingnya sinergi lintas sektor.
“Kolaborasi seluruh unsur sangat menentukan keberhasilan pemadaman di lapangan,” katanya.
Selain pemadaman darat, operasi juga diperkuat dukungan udara melalui water bombing untuk menjangkau titik api yang sulit diakses personel. Langkah ini dinilai efektif mempercepat proses pendinginan area terbakar.
Sejumlah kendala masih dihadapi tim, mulai dari keterbatasan sumber air di sekitar lokasi, arah angin yang berubah-ubah, hingga karakteristik gambut kering yang membuat api sulit dipadamkan sepenuhnya.
Meski begitu, perkembangan di lapangan menunjukkan progres positif. Tim satgas terus mengoptimalkan pemadaman hingga seluruh titik api dapat dikendalikan secara menyeluruh.
Sekdakab Bengkalis, dr Ersan Saputra mengingatkan pentingnya peran masyarakat dalam pencegahan karhutla.
“Kami mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar. Partisipasi warga sangat menentukan keberhasilan penanggulangan karhutla di Riau,” tegasnya.
Pemerintah dan aparat berharap kesadaran kolektif masyarakat meningkat agar kejadian serupa tidak terus berulang, terutama memasuki periode rawan kebakaran.