PEKANBARU - Upaya menekan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau terus digenjot melalui berbagai strategi, termasuk operasi modifikasi cuaca (OMC).
Namun, efektivitas langkah ini masih terhambat faktor alam: ketersediaan awan hujan yang sangat terbatas.
Pada Senin (6/4/2026), tim pelaksana hanya mampu menjalankan satu kali penerbangan penyemaian awan dengan rute Dumai hingga Pulau Rupat.
Operasi tersebut menjadi satu-satunya intervensi cuaca yang dapat dilakukan dalam beberapa hari terakhir.
Koordinator Wilayah Manggala Agni Provinsi Riau, Edwin Putra menegaskan, keterbatasan awan menjadi hambatan utama.
“Operasi modifikasi cuaca kemarin dilaksanakan satu sortie dengan arah Dumai–Rupat. Sampai tadi malam, belum ada potensi awan yang cukup untuk dilakukan penyemaian lanjutan,” ujarnya, Selasa (7/4/2026).
OMC pada dasarnya bergantung penuh pada keberadaan awan yang memenuhi syarat untuk disemai. Tanpa awan potensial, hujan buatan tidak dapat dihasilkan secara maksimal.
Menurut Edwin, kondisi ini menjadi tantangan serius di tengah upaya pemadaman yang masih berlangsung di sejumlah titik rawan, terutama wilayah pesisir seperti Bengkalis dan sekitarnya.
“Keberhasilan operasi modifikasi cuaca sangat bergantung pada keberadaan awan potensial. Tanpa itu, upaya menciptakan hujan buatan tidak dapat dilakukan secara optimal,” jelasnya.
Meski terkendala, strategi penanganan karhutla tidak berhenti. Tim gabungan tetap mengandalkan kombinasi operasi darat, dukungan udara, serta intervensi cuaca sebagai langkah terpadu.
Pemantauan cuaca dilakukan secara intensif. Begitu awan potensial terdeteksi, operasi penyemaian akan kembali dilanjutkan tanpa menunggu lama.
“Kita terus lakukan pemantauan. Begitu ada awan potensial, operasi akan langsung kita jalankan kembali,” tegas Edwin.
Langkah ini diharapkan mampu mempercepat proses pemadaman dan mencegah kebakaran meluas di wilayah rawan karhutla Riau.