BAGANSIAPIAPI - Anggota DPRD Rokan Hilir (Rohil) dari Fraksi PAN, Sutiyo Pramono, menggelar reses pertama masa sidang I tahun 2026 dengan pendekatan yang tidak biasa.
Kegiatan yang berlangsung di Kantor PAN Rohil, Kepenghuluan Bagan Punak Meranti, Minggu malam (19/4/2026), dilakukan dalam bentuk silaturahmi tanpa sesi penyerapan aspirasi masyarakat.
Keputusan tersebut, menurut Sutiyo, bukan tanpa alasan, langkah ini diambil setelah mempertimbangkan kondisi keuangan daerah yang sedang mengalami tekanan serius.
“Daripada memberikan harapan palsu kepada masyarakat, lebih baik tidak ada sesi pertanyaan,” kata Sutiyo.
Sutiyo menjelaskan, perubahan pola reses berkaitan erat dengan kondisi fiskal daerah. Pada 2025, APBD Rohil tercatat sekitar Rp2,4 triliun, namun masih menyisakan tunda bayar sekitar Rp200 miliar. Sementara pada 2026, APBD justru menurun menjadi Rp1,8 triliun.
Penurunan tersebut membuat ruang fiskal pemerintah daerah semakin sempit, sehingga berbagai usulan masyarakat dinilai sulit direalisasikan dalam waktu dekat.
“Lebih baik kita reses dengan mengunjungi konstituen melalui silaturahmi,” ujarnya.
Sutiyo mengakui, selama satu tahun menjabat sebagai anggota DPRD, belum semua usulan masyarakat dapat terakomodasi. Ia tidak ingin kegiatan reses justru memunculkan harapan yang sulit diwujudkan.
“Satu tahun saya menjadi anggota DPRD, belum semua usulan masyarakat bisa terakomodir,” ungkapnya.
Ia menegaskan, langkah tersebut bukan berarti mengabaikan kebutuhan warga. Namun keterbatasan anggaran membuat pemerintah daerah tidak dapat memenuhi seluruh permintaan masyarakat dalam waktu bersamaan.
Menutup kegiatan reses, Sutiyo menilai kondisi defisit bukan hanya dialami Rohil. Ia menyebut banyak kabupaten/kota di Indonesia menghadapi tekanan fiskal serupa, sehingga diperlukan pendekatan realistis dalam menyampaikan program kepada masyarakat.