DUMAI - Memasuki awal tahun 2026, fenomena banjir rob kembali melanda wilayah pesisir Kota Dumai. Sejumlah ruas jalan protokol dan permukiman warga di Kecamatan Dumai Kota tergenang air laut pasang sejak Minggu (4/1/2026), menandai meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi di kawasan pesisir Riau.
Pantauan di lapangan menunjukkan genangan air terjadi di Jalan Sultan Hasanuddin, Jalan Sultan Syarif Kasim, Jalan Budi Kemuliaan, Jalan Pattimura, hingga Jalan Cempedak.
Air laut pasang tidak hanya mengganggu mobilitas warga, tetapi juga mulai memasuki halaman dan rumah penduduk di kawasan rendah.
Banjir rob merupakan peristiwa naiknya muka air laut ke daratan saat pasang maksimum. Kota Dumai yang berada di wilayah pesisir Riau dikenal sebagai daerah langganan pasang keling, terutama saat dikombinasikan dengan intensitas hujan tinggi seperti yang terjadi beberapa hari terakhir.
Kalaksa BPBD Dumai melalui Kabid Penanggulangan Bencana, Joko mengonfirmasi, banjir rob mulai terdeteksi sejak Minggu dan berpotensi meningkat dalam beberapa hari ke depan.
“Diprediksi beberapa hari ke depan banjir rob atau pasang keling akan melanda Dumai dengan ketinggian yang lebih besar. Puncaknya diperkirakan terjadi pada 6 hingga 9 Januari 2026, sehingga harus diwaspadai bersama,” ujar Joko.
Ia menjelaskan, wilayah Dumai Kota menjadi salah satu titik terdampak paling awal karena topografi rendah dan kedekatannya dengan garis pantai. Kondisi tersebut diperparah oleh curah hujan deras yang terjadi secara beruntun.
“Hari ini genangan sudah terjadi di sejumlah jalan protokol dan permukiman. Besok diprediksi air akan lebih tinggi. Masyarakat diimbau tetap waspada dan sebisa mungkin menghindari ruas jalan yang kerap terendam,” katanya.
BPBD Dumai juga meminta warga yang tinggal di kawasan pesisir, termasuk Rimba Sekampung dan sekitarnya, untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi pasang laut maksimum.
Koordinasi dengan perangkat kelurahan, kecamatan, serta BPBD menjadi langkah penting apabila membutuhkan bantuan darurat.
Selain risiko genangan, masyarakat diingatkan untuk mewaspadai bahaya lanjutan yang kerap muncul saat banjir rob.
“Saat banjir rob, waspadai juga hewan melata seperti ular. Untuk barang elektronik dan dokumen penting, sebaiknya diletakkan di tempat yang lebih tinggi,” pungkasnya.
Pemerintah daerah terus memantau perkembangan pasang laut dan cuaca, sembari mengimbau masyarakat agar tidak mengabaikan peringatan dini demi meminimalkan dampak kerugian.