PEKANBARU - Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Peduli Tani Nelayan (DPD-GPTN) Provinsi Riau menyatakan kesiapan untuk bersinergi dengan berbagai program strategis Pemerintah Provinsi Riau dalam memperkuat sektor pangan daerah.
Langkah ini sejalan dengan upaya mendukung swasembada pangan nasional sebagaimana tertuang dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Ketua GPTN Riau, Erfan Effendi, mengatakan seluruh sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan perlu diperkuat melalui satu gerakan terpadu agar pembangunan pangan daerah berjalan lebih efisien, inklusif, dan berkelanjutan.
“Kami yakin Riau masih memiliki potensi besar yang bisa dioptimalkan. GPTN akan menyiapkan program-program unggulan untuk lima tahun ke depan dengan tetap berkolaborasi lintas sektor,” ujar Erfan, Sabtu (10/1/2026).
Menurutnya, program swasembada pangan sejatinya bukan hal baru bagi Indonesia. Ia menyinggung keberhasilan negara pada masa lalu yang mampu mencapai swasembada beras melalui dukungan kuat terhadap petani dan struktur pertanian yang terfasilitasi dengan baik.
“Ini momentum yang harus kita manfaatkan. Riau harus berani menjadi provinsi sentral pangan di Sumatera. Optimalisasi lahan, termasuk program cetak sawah, harus didorong dengan dukungan APBD dan APBN,” katanya.
Erfan juga menilai komitmen Pemerintah Provinsi Riau di bawah kepemimpinan Plt Gubernur SF Hariyanto menjadi cambuk bagi seluruh pihak untuk bergerak bersama. Keterlibatan lintas sektor dinilai mutlak diperlukan agar program pangan dapat berjalan maksimal.
Ia menegaskan GPTN siap terlibat langsung karena organisasi tersebut beranggotakan petani aktif yang memahami kondisi lapangan. Menurutnya, ketergantungan pasokan pangan dari luar daerah menjadi persoalan serius, terutama ketika terjadi bencana atau gangguan distribusi di wilayah Sumatera.
“Kita harus mencukupi kebutuhan pangan sendiri. Riau tidak boleh terus bergantung pada daerah lain,” tegasnya.
Erfan juga menyoroti dampak positif program Makan Bergizi Gratis yang dinilainya mampu menggerakkan UMKM berbasis pertanian serta memperkuat rantai ekonomi lokal. Namun, ia mengingatkan bahwa persoalan inflasi dan gangguan suplai-demand masih menjadi tantangan yang harus dijawab dengan pengelolaan anggaran yang tepat guna.
“Tahun ini harus menjadi titik awal agar produksi pangan Riau benar-benar mandiri,” ujarnya.
Lebih lanjut, GPTN mendorong keterlibatan lebih besar kelompok tani, pihak ketiga, serta dukungan program stimulan dari pemerintah daerah agar regenerasi petani dapat berjalan. Saat ini, rata-rata usia petani dinilai sudah cukup tinggi, sehingga diperlukan petani muda sebagai penerus.
“Petani sering dipandang sebelah mata, padahal petani adalah tumpuan negara besar. Stigma ini harus diubah,” katanya.
GPTN Riau juga menyoroti potensi pengembangan lahan pertanian di sejumlah daerah seperti Pelalawan, Rokan Hilir, dan Siak. Di Pelalawan saja, kata Erfan, terdapat potensi sekitar 5.000 hektare lahan yang bisa dioptimalkan untuk mendukung program pangan nasional yang linier dengan kebijakan pusat dan daerah.
“GPTN siap mengabdi dan berkolaborasi untuk mewujudkan Riau sebagai daerah yang kuat dan mandiri di sektor pangan,” pungkasnya.