PEKANBARU - Pemprov Riau semakin memacu langkah konkret pengendalian inflasi daerah dengan memperluas jangkauan operasi pasar murah.
Melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), intervensi harga bahan pokok kembali digelar dan kali ini menyasar Kabupaten Kampar sebagai lokasi ke-23 sepanjang tahun 2026.
Kadisperindagkop UKM Riau, Taufiq Oesman Hamid menegaskan, operasi pasar murah menjadi instrumen strategis pemerintah untuk menjaga ketersediaan pasokan sekaligus menahan laju kenaikan harga pangan, khususnya menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri.
“Per hari ini, Pemprov Riau melalui TPID telah menggelar operasi pasar murah sebanyak 23 kali. Terbaru, hari ini kita sukses melaksanakannya di Pasar Limbungan Baru, Kota Pekanbaru,” ujar Taufiq.
Menurutnya, intensitas pasar murah akan terus ditingkatkan dalam beberapa pekan ke depan seiring meningkatnya kebutuhan konsumsi masyarakat.
Pola distribusi pun dilakukan secara bergilir agar manfaat intervensi harga dirasakan merata di seluruh wilayah Riau.
“Kita upayakan dalam sepekan itu selalu ada pasar murah yang berkeliling. Meski saat ini masih dominan di Pekanbaru, kabupaten dan kota lain tetap menjadi prioritas secara bergantian,” jelasnya.
Untuk Kampar, pasar murah yang digelar di halaman Kantor Desa Persiapan Kasang Kulim dan mulai dibuka sejak pukul 08.00 WIB.
Lokasi ini dipilih untuk mendekatkan akses masyarakat terhadap bahan pangan dengan harga terjangkau.
Dalam operasi pasar tersebut, beras menjadi komoditas utama yang paling diburu warga. Beras SPHP dijual Rp60.000 per 5 kilogram, sementara beras premium lokal seperti Anak Daro dan Sokan dibanderol Rp162.000 per 10 kilogram atau Rp81.000 per 5 kilogram.
Selain beras, sejumlah kebutuhan dapur lain juga tersedia dengan harga di bawah pasar, antara lain, gula pasir Rp17.000 per kilogram, Minyak goreng Salvaco Rp21.000 per liter, Palmco Rp16.000 per bungkus, Minyakita Rp15.500 per bungkus, tepung tapioka Rp8.000 dan garam mulai Rp2.000
Sementara itu, harga komoditas strategis seperti cabai merah, bawang, kentang, dan telur ayam disesuaikan langsung dengan harga tingkat petani serta dinamika pasar harian agar tetap kompetitif dan tidak merugikan produsen.
Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya Pemprov Riau menjaga daya beli masyarakat di tengah fluktuasi harga pangan nasional dan potensi tekanan inflasi musiman.