PEKANBARU - Laju inflasi tahunan atau year on year (y-on-y) Provinsi Riau pada Februari 2026 tercatat sebesar 5,30 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 112,06. Kenaikan harga ini dipicu oleh lonjakan di sejumlah kelompok pengeluaran, terutama perawatan pribadi serta sektor perumahan dan energi.
Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Riau, Asep Riyadi, Senin (2/3/2026), menjelaskan bahwa inflasi tertinggi terjadi di Tembilahan sebesar 7,32 persen dengan IHK 113,24. Sementara itu, inflasi terendah tercatat di Kabupaten Kampar sebesar 5,14 persen dengan IHK 112,90.
“Pada Februari 2026 terjadi inflasi y-on-y Provinsi Riau sebesar 5,30 persen dengan IHK sebesar 112,06. Inflasi tertinggi terjadi di Tembilahan sebesar 7,32 persen dan terendah di Kabupaten Kampar sebesar 5,14 persen,” ujarnya.
Secara bulanan (month to month/m-to-m), Riau mengalami inflasi sebesar 0,32 persen. Namun secara tahun kalender (year to date/y-to-d), justru terjadi deflasi sebesar 0,12 persen.
Asep memaparkan, inflasi tahunan dipicu kenaikan harga pada sembilan kelompok pengeluaran. Lonjakan tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 19,60 persen, disusul kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 16,27 persen.
Kelompok pendidikan naik 5,05 persen; makanan, minuman dan tembakau 3,90 persen; pakaian dan alas kaki 2,37 persen; kesehatan 2,08 persen; penyediaan makanan dan minuman/restoran 1,97 persen; transportasi 0,61 persen; serta informasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,07 persen.
Di sisi lain, dua kelompok mengalami deflasi, yakni perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,99 persen serta rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 0,10 persen.
Secara umum, IHK meningkat dari 106,42 pada Februari 2025 menjadi 112,06 pada Februari 2026. Sejumlah komoditas yang dominan menyumbang inflasi y-on-y antara lain tarif listrik, emas perhiasan, daging ayam ras, ayam hidup, biaya akademi/perguruan tinggi, bawang merah, ikan serai, sewa rumah, ikan tongkol, Sigaret Kretek Mesin (SKM), telur ayam ras, beras, sepeda motor, nasi dengan lauk, dan tomat.
Dilansir dari MCRiau, sementara komoditas yang menahan laju inflasi atau menyumbang deflasi di antaranya cabai merah, kentang, cabai rawit, bensin, bawang putih, sabun detergen bubuk, tarif parkir, minyak goreng, terong, masker, jengkol, sabun cair, ikan baung, kacang panjang, susu bubuk balita, bahan bakar rumah tangga, serta pengharum cucian.
Untuk inflasi bulanan, komoditas yang dominan mendorong kenaikan harga antara lain emas perhiasan, cabai merah, tomat, daging ayam ras, jengkol, SKM, tarif dokter spesialis, udang basah, mobil, dan daging sapi. Sedangkan bawang merah, cabai rawit, bayam, telur ayam ras, buncis, bensin, sawi putih, cabai hijau, sawi hijau, ayam hidup, ketimun, kacang panjang, dan kangkung menjadi penahan inflasi bulan ini.
Kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga tercatat memberi andil inflasi y-on-y terbesar yakni 1,89 persen. Disusul perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 1,45 persen serta makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,28 persen.