JAKARTA – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) mencatatkan kinerja positif pada kuartal I tahun 2026 dengan membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp5,68 triliun.
Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan, mengatakan capaian tersebut merupakan hasil dari pertumbuhan bisnis yang sehat serta penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan risiko.
“BNI terus menjaga momentum pertumbuhan dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta disiplin dalam manajemen risiko di tengah dinamika global,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (29/4/2026).
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian, laba bersih emiten berkode BBNI ini meningkat sekitar 5,04 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp5,41 triliun.
Direktur Finance and Strategy BNI, Hussein Paolo Kartadjoemena, menjelaskan bahwa pertumbuhan laba didorong oleh peningkatan pendapatan bunga bersih serta pendapatan non-bunga, disertai kualitas aset yang semakin kuat.
Pendapatan non-bunga tercatat tumbuh 12,6 persen secara tahunan, didukung oleh peningkatan transaksi pada platform digital. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pendapatan bunga bersih (NII) yang naik 12,1 persen menjadi Rp11,02 triliun.
Kinerja tersebut turut mendorong Pendapatan Operasional sebelum Pencadangan (PPOP) mencapai Rp9,3 triliun, menjadi yang tertinggi untuk periode kuartal I dalam beberapa tahun terakhir.
Dari sisi aset, BNI mencatat pertumbuhan sebesar 4,75 persen menjadi Rp1,42 triliun dibandingkan Rp1,36 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kualitas aset juga menunjukkan perbaikan, dengan rasio kredit bermasalah (NPL) turun menjadi 1,9 persen. Selain itu, Loan at Risk berada di level 8,6 persen dan credit cost sebesar 1,1 persen, sesuai dengan proyeksi perusahaan.
Fundamental keuangan tetap terjaga kuat, tercermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 83,5 persen serta rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) di level 18,5 persen, jauh di atas ketentuan regulator.
“Kinerja ini mencerminkan keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi, dan pengelolaan risiko yang disiplin,” ujar Paolo.