LAMPUNG - Ratusan siswa dari tiga sekolah di Kecamatan Kemiling, Bandarlampung, diduga mengalami keracunan makanan setelah mengonsumsi hidangan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Rabu (13/2/2026). Dinas Kesehatan Kota Bandarlampung saat ini tengah melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab kejadian tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Bandarlampung, Muhtadi Arsyad Tumenggung, menyatakan korban berasal dari SDN 4 Sumberjo, SD Al Munawaroh, serta SMPN 14 Bandarlampung. Para siswa, guru, dan orang tua yang terdampak umumnya mengalami gejala diare.
Dugaan keracunan mengarah pada satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kecamatan Kemiling yang menjadi penyedia makanan bagi ketiga sekolah tersebut. Hingga kini, penyebab pasti belum dapat dipastikan karena sampel makanan dan air masih dalam tahap pengujian laboratorium.
Data sementara mencatat, di SDN 4 Sumberjo terdapat 77 siswa, sembilan guru, dan satu orang tua yang terdampak. Di SD Al Munawaroh, jumlah korban mencapai 64 siswa, 11 guru dan penjaga sekolah, serta satu orang tua guru. Sementara itu, 43 siswa SMPN 14 Bandarlampung juga dilaporkan mengalami gejala serupa.
Dari seluruh korban, sebagian besar menjalani rawat jalan, sedangkan beberapa lainnya memerlukan perawatan intensif di rumah sakit, klinik, atau Puskesmas Kemiling. Dinas Kesehatan telah menginstruksikan fasilitas kesehatan setempat untuk terus memantau kondisi korban hingga pulih sepenuhnya.
Setelah menerima laporan, petugas kesehatan melakukan pemeriksaan langsung ke lokasi SPPG. Secara fisik, fasilitas dinilai memenuhi kriteria awal, namun ditemukan bahwa SPPG tersebut belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Menurut Muhtadi, sertifikat tersebut belum dapat diterbitkan karena masih terdapat sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi pihak pengelola. Temuan ini menjadi perhatian penting dalam proses penyelidikan.
Dinas Kesehatan menegaskan bahwa pemantauan kesehatan korban dan evaluasi standar higiene sanitasi menjadi prioritas utama. Pemerintah daerah juga menekankan pentingnya pengawasan ketat terhadap penyedia makanan dalam program yang melibatkan banyak penerima manfaat guna mencegah kejadian serupa di masa mendatang.